: WIB    —   
indikator  I  

Menuju era suku bunga rendah

Oleh Paul Sutaryono
( Pengamat Perbankan dan Mantan Assistant Vice President BNI )
Menuju era suku bunga rendah

Bank Indonesia (BI) tancap gas mendorong gairah ekonomi nasional dengan menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate masing-masing 25 basis poin (bps) pada medio Agustus dan September 2017 sehingga menjadi 4,25%. Apakah hal itu merupakan awal memasuki era suku bunga rendah?

Tidak hanya itu. BI juga menurunkan suku bunga deposit facility dan lending facility turun 25 bps masing-masing menjadi 3,50% dan 5%. Deposit facility merupakan fasilitas bagi bank untuk menempatkan kelebihan likuiditas di BI. Sebaliknya, lending facility merupakan fasilitas bank sentral untuk meminjamkan kepada bank yang membutuhkan.

Lantas, faktor kunci keberhasilan (key success factors) apa saja supaya bisa menuju era suku bunga rendah?

Pertama, pemerintah pernah mencanangkan suku bunga kredit satu digit (single digit) pada akhir 2016. Sayangnya, target itu belum teraih. Oleh karena itu, sudah semestinya bank mendukung target itu yang bertujuan untuk mengerek kredit perbankan nasional.

Kedua, sudah pasti  perlu waktu antara penurunan suku bunga acuan dan suku bunga deposito yang kemudian menyetrum suku bunga kredit. Dengan bahasa lebih bening, bank tidak bisa langsung turunkan suku bunga kredit segera setelah suku bunga acuan turun.

Jauh sebelumnya, bank wajib membahas profil risiko dan imbal hasil bank dalam rapat asset and liability committee (ALCO). ALCO terdiri dari berbagai unit bisnis strategis  atau strategic business units (SBU) seperti Divisi Tresuri, Internasional, Kredit, Operasional, Layanan, Jaringan, Perencanaan Strategis, Satuan Pengawasan Internal, Hukum dan Kepatuhan. Setelah itu, bank baru dapat memutuskan perubahan suku bunga deposito dan suku bunga kredit.

Menurut BI, suku bunga acuan sudah turun 175 bps (1,75%) dari Januari 2016 hingga Agustus 2017 dan suku bunga kredit sudah turun 115 bps. Artinya, ada ruang bagi bank untuk melakukan pelonggaran dan penurunan suku bunga kredit.

Ketiga, namun sesungguhnya diperlukan pula komitmen tinggi bank papan atas terutama bank pemerintah yang bertindak sebagai agen pembangunan (agent of development) untuk menurunkan suku bunga deposito mengingat biaya bunga (cost of fund) sudah menipis. Komitmen itu penting.

Karena ketika 10 bank papan atas sebagai pemimpin pasar (market leader) sekaligus penentu sikap pasar (trend setter) sudah menurunkan suku bunga deposito yang kemudian mendorong penurunan suku bunga kredit, maka bank lain suka tak suka akan mengikutinya. Jika tidak, bank lain justru akan tertindih persaingan.

Feedback   ↑ x
Close [X]