kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.923
  • SUN98,38 -0,17%
  • EMAS611.050 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menyalin batin blockchain

Jumat, 08 Juni 2018 / 13:15 WIB

Menyalin batin blockchain

Hijrah sekarang?

Namun, bukan berarti semua bidang bisnis saat ini juga layak hijrah ke blockhain. Perlu penelaahan dan pensigian lebih dalam, karena banyak pilihan blockchain di luar sana. Lagipula, penerapan blockchain harus sesuai dengan tingkat kerumitan business process sebuah perusahaan.

Blockchain yang masih belia, menghadapi masalah skalabilitas. Blockchain bitcoin saat ini misalnya, hanya mampu menangani 3-4 transaksi per detik (TPD). Sebelumnya bisa menangani hingga 7 TPD. Ethereum, terbatas hanya 20 TPD. NEO dan Achain mengklaim bisa menangani hingga 1.000 TPD. Jikalau dibandingkan dengan Visa dan Paypal, blockchain saat ini tentu kalah jauh. Visa mampu memproses rata-rata 1.667 TPD dan Paypal rata-rata 193 TPD.

Karena kendala itulah transaksi di blockchain bitcoin dan ethereum bisa sangat lama diproses, karena secara protokol, fee transaksi yang terbesarlah yang diproses oleh miner.

Ratusan pengembang blockchain berusaha memecahkan masalah itu. Komunitas bitcoin misalnya berpikir untuk meningkatkan kapasitas blok untuk menyimpan sejumlah transaksi atau membuat lapis tambahan di atas blockchain sebelum direkam ke rantai blok. Masalahnya, karena bitcoin memerlukan kesepakatan mayoritas (sekitar 80%) terhadap suatu perubahan di dalam sistem, sulit menerapkannya secara cepat. Fitrah bitcoin itu adalah egalitarian, bahwa setiap simpul di jaringan memiliki peran fungsi yang setara dengan simpul lain. Sementara ethereum kian giat menaiktarafkan (upgrade) kemampuan agar bisa memproses satu juta transaksi, melebihi Visa.

Achain mencoba mendekati isu skalabilitas itu dengan forking-theory. Forking adalah cara membuat blockchain transaksi sendiri (sub-chain), disesuaikan dengan kebutuhan pengembang. Tapi masih bagian integral dari blockchain utama (main-chain) achain tersebut. Jadi, kepadatan transaksi di blockchain utama tidak akan mengganggu beberapa sub-chain lainnya, dan sebaliknya.

Mirip dengan teknologi blockchain publik di atas, Linux Foundation bermitra dengan IBM dan ratusan perusahaan TI kelas dunia, membesut hyperledger sebagai distributed ledger technology (DLT). Kalau yang satu ini dikelompokkan sebagai permissioned blockchain, yang memerlukan syarat khusus lainnya, walaupun kodenya bersifat open source. Dengan hyperledger, tidak diharuskan membuat token atau koin digital sebagai sistem insentif, seperti Ethereum. Oracle dan Amazon pun bermain di bidang ini.

Blockchain juga sedang menghadapi kendala interoperabilitas, yakni kemampuan berinteraksi dan berfungsi terhadap produk atau sistem blockchain lain tanpa batasan akses atau implementasi. Itu yang belum tercapai, tetapi tidak sedikit berusaha menuju itu, di antaranya ethereum, ardor, dan achain. Pengembang lainnya mencoba membuat blockchain yang sistemnya mampu meniru aturan kebijakan inflasi atau penargetan harga. Supaya harga uang berwujud kripto bisa stabil layaknya uang fiat.

Jadi, dunia masih menantikan kedigdayaan lain dari teknologi blockchain, baik yang dibesut oleh korporasi besar, startup atau mungkin oleh negara sendiri.n

Vinsensius Sitepu
Pendiri Mahapala Multimedia


Reporter: Tri Adi

Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-113,07
5.993,63
-1.85%
 
US/IDR
13.902
0,25
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×