| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.362
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menyoal susu kental manis

Rabu, 11 Juli 2018 / 14:42 WIB

Menyoal susu kental manis

Belakangan ini masyarakat mempertanyakan mengenai kelayakan susu kental manis setelah ketua Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR-RI) mengimbau masyarakat agar susu kental manis sementara tak dikonsumsi hingga ada konfirmasi lebih lanjut. Persoalan susu kental manis ini mencuat setelah BPOM merilis Surat Edaran Nomor HK. 06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 mengenai perintah kepada produsen, importir dan distributor susu kental manis sehubungan dengan analog, label, dan iklan produk.

Latar belakang penerbitan Surat Edaran BPOM adalah mengedukasi masyarakat tentang esensi produk susu kental manis yang beredar. Produk itu tidak mengandung padatan susu, melainkan hanya mengandung lemak susu sebesar 8 % dan protein 6,5 % sehingga tidak dapat dikualifikasikan sebagai susu (kategori pangan 01.3). Rilis BPOM pada Juli 2018 itu, berbeda dengan rilis BPOM Oktober 2017, melalui Direktur Standarisasi Produk Pangan BPOM menyatakan susu kental manis merupakan produk yang dapat dikualifikasikan sebagai susu dan aman dikonsumsi siapa pun.

Mengacu pada penelitian kandungan gula pada susu kental manis yang dilakukan Institut Pertanian Bogor pada 2017 (Briawan,2017), kandungan gula pada produk susu kental manis sekitar 50%. Tantangan produsen susu kental manis saat ini adalah membuktikan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi siapa pun dan layak disebut produk susu.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki regulasi teknis terkait susu kental manis yang tertuang dalam dokumen SNI nomor 01-271-1998 yang dirilis tahun 2014. Jadi, sejak 2014 Indonesia telah mendefinisikan susu kental manis sebagai susu dan kepalan (padatan susu) yang dipekatkan atau mengandung tambahan gula atau tambahan bahan pemanis lainnya. Definisi ini ditemukan dalam dokumen SNI nomor 01-271-1998 yang dirilis tahun 2014 dengan kode HS 0402.99.00.00, sehingga perdebatan mengenai definisi susu kental manis sebenarnya tidak perlu terjadi.

Persoalannya, definisi tersebut nampaknya tidak tersosialisasikan dengan baik. Dugaan ini merujuk ke masih gamangnya pemerintah dalam mendefinisikan susu. Ini terlihat dalam press rilis BPOM Juli 2018 yang berbeda dengan press rilis BPOM Oktober 2017. Persoalan lainnya dalam regulasi terkait susu kental manis , jelas diatur bahwa komponen gula dan bahan pemanis hanya sebagai tambahan saja mengingat bahan pokoknya adalah susu dan kepalan (padatan susu).

Langkah BPOM menerbitkan Surat Edaran Nomor HK. 06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 pada Mei 2018 bukan merupakan langkah solutif bagi perlindungan konsumen. Mengingat edaran tersebut hanya mengatur dari sisi adverstisment saja. Ini tidak menjawab persoalan yang mendasar terkait kebutuhan sosialisasi masyarakat akan susu kental manis dan aspek penegakan hukum bagi perlindungan konsumen susu kental manis.


Reporter: Tri Adi

Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-43,65
5.861,51
-0.74%
 
US/IDR
14.391
-0,03
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×