: WIB    --   
indikator  I  

Meregulasi jasa transportasi online

Oleh Nofie Iman
( Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada )
Meregulasi jasa transportasi online

Kita semua tentu sepakat bahwa penyedia jasa transportasi berbasis daring (online) perlu diregulasi. Regulasi harus dibuat agar pengemudi diperlakukan dengan adil (fair), konsumen dilindungi hak-haknya, pengguna jalan raya terjamin keselamatannya, termasuk agar penyedia jasa membayar pajak dan tunduk pada aturan yang berlaku. Pertanyaannya kemudian adalah apa bentuk regulasinya dan bagaimana regulasi tersebut diberlakukan?

Minggu lalu, pemerintah melalui Menteri Perhubungan telah menyepakati bahwa revisi Peraturan Menteri (PM) No. 32 Tahun 2016 akan diberlakukan pada 1 April 2017. Regulasi tersebut mengatur jenis angkutan yang dapat digunakan, kapasitas silinder mesin kendaraan, batas tarif sewa, kuota jumlah angkutan, kewajiban STNK berbadan hukum, pengujian berkala (KIR), ketersediaan pool dan bengkel, pajak, akses dashboard, hingga sanksi yang dikenakan. Aturan ini membuat penyedia jasa transportasi berbasis daring diperlakukan seperti layaknya penyedia jasa transportasi konvensional.

Penyedia jasa transportasi umumnya berawal dari perusahaan-perusahaan rintisan (startup). Dengan memanfaatkan teknologi informasi yang kian canggih, basis data yang memadai (open data), penetrasi ponsel yang tinggi, serta semakin maraknya media sosial, mereka mengembangkan model bisnis baru dan organisasi yang sangat mengandalkan inovasi. Dari kacamata sosial, gaya hidup urban yang terlokalisasi (close proximities) dan pengaruh sosial dalam keputusan pembelian (social commerce) ikut mendorong makin berkembangnya penyedia jasa transportasi berbasis daring.

Secara teori, inovasi dapat bersifat kontinu (sustaining), baik itu inovasi yang berupa perubahan sedikit demi sedikit (incremental) maupun inovasi yang drastis (radical). Inovasi jenis kontinu ini biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki sumber daya teknis dan finansial yang memadai. Selain itu, ada pula inovasi yang bersifat mencerabut (disruptive). Teknik inovasi inilah yang biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan rintisan karena mereka memiliki keterbatasan dibandingkan bisnis-bisnis besar yang lebih dulu ada (incumbent).

Feedback   ↑ x