: WIB    --   
indikator  I  

Narasi dan haluan desa

Oleh Jony Eko Yulianto
( Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya )
Narasi dan haluan desa

Liburan Lebaran telah usai. Semua pemudik sudah balik ke kota dan berkarya kembali. Tetapi sebelum kembali hanyut dalam rutinitas profesional, mari kita merenungkan sebuah pertanyaan penting tentang esensi mudik melalui pertanyaan evaluatif ini: “Apa elemen terpenting mudik yang diterima oleh desa melalui adanya fenomena mudik?”

Mayoritas pengamat menyebut elemen terpenting yang diterima desa adalah faktor ekonomi, yakni kenaikan perputaran uang. Pandangan ini menilai, mudik Idul Fitri merupakan peluang bagi desa untuk menerima perputaran dana besar yang dibelanjakan pemudik.

Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) mengestimasi perputaran uang dari para pemudik di tahun ini mencapai Rp 205,8 triliun atau setara dengan 9,9% dari total APBN.

Namun pandangan ekonomi-sentris ini tidak dapat diandalkan sebagai satu-satunya pilar dalam membangun desa secara berkelanjutan.

Menempatkan modalitas finansial sebagai poros utama pembangunan desa sangat berisiko diinterpretasikan secara keliru: Perekonomian desa seolah-olah baru berkembang jika ada cukup aliran uang, seperti saat Lebaran tiba.

Penulis berargumen, terdapat pula faktor lain, yakni faktor non-ekonomi yang juga menentukan haluan perkembangan desa, yakni narasi cerita pemudik.

Saat pemudik tiba di kampung halaman, mereka akan menceritakan narasi-narasi fenomenologis yang mereka rasakan tentang kota yang mereka tinggalkan dan desa yang mereka kunjungi.

Selain itu, pemudik mendengar cerita dari warga lokal tentang desa dan pertanyaan tentang kota. Interaksi sosial terjadi. Sayang, narasi cerita jarang dibahas dalam perspektif pembangunan desa.

Setidaknya ada dua jenis narasi cerita yang kerap muncul dan relevan untuk dibahas dengan perspektif pembangunan desa.

Pertama, cerita inspiratif tentang bagaimana denyut nadi kota bekerja. Jenis cerita ini menstimulasi masyarakat desa untuk mendapatkan gambaran tentang pengelolaan modal finansial dikelola.

Banyak pelaku-pelaku usaha di kota yang penuh dengan kreativitas dan inovasi, yang memungkinkan sebuah rintisan usaha (start-up) terjadi.  Ide-ide segar tentang pengembangan usaha ini, pada titik tertentu dapat pula diimplementasikan di desa.

Tentu, yang dimaksud implementasi di sini bukanlah meniru mentah, tetapi tetap memerlukan penyesuaian yang kontekstual. Tetapi melalui diskursus ini, poin terpentingnya:

Narasi cerita tentang ide rintisan usaha di kota akan menstimulasi pelaku-pelaku usaha di desa untuk mengembangkan business model canvas, dari cara yang konvensional menjadi progresif dan inovatif.

Menyadari potensi

Narasi cerita tentang kehidupan kota adalah topik yang penting, relevan, dan diperlukan masyarakat yang tinggal di desa karena jenis cerita ini berpeluang memberikan keberanian pada segenap masyarakat desa untuk menggarap potensi-potensi yang ada di desanya. Mengapa keberanian menjadi elemen yang penting?

Desa sebenarnya telah memiliki potensi yang bisa diaktifkan untuk berkembang. Dari segi finansial, desa memiliki kekuatan melalui dana otonomi desa yang besarnya bisa lebih dari Rp 1 miliar per tahun.

Yang sebenarnya diperlukan adalah faktor psikologis berupa keyakinan dan gambaran konkret tentang bagaimana eksekusi pembangunan dilakukan melalui best practice tentang pembangunan di kota.

Feedback   ↑ x
Close [X]