: WIB    --   
indikator  I  

Nyonya Meneer dan responsivitas pasar

Oleh Satrio Wahono
( Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila )
Nyonya Meneer dan responsivitas pasar

Siapa nama perempuan paling kuat di Indonesia? Nyonya Meneer. Kok bisa? Karena dia sudah berdiri sejak 1919.

Lelucon klasik ini tentu masih terngiang di rekam memori banyak orang Indonesia. Sayangnya, lelucon itu tak akan lagi relevan saat ini. Pasalnya, Nyonya Meneer sebagai salah satu pelopor produsen jamu di Indonesia telah resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang di awal Agustus ini. Vonis pengadilan negeri PN itu adalah respons putusan atas gugatan pailit yang diajukan 35 kreditur yang memiliki piutang macet sebesar Rp 89 miliar di perusahaan jamu itu.

Tak pelak kabar ini membuat dunia bisnis, khususnya industri jamu, terhenyak. Betapa tidak, Nyonya Meneer boleh dibilang salah satu household name (nama legenda) dalam industri minuman rempah berkhasiat tersebut. Namanya bersanding dengan produsen jamu lain yang terkenal, seperti Jamu Jago dan Sido Muncul. Oleh karena itu, menelisik sebab-musabab lunglainya Nyonya Meneer tentu menarik sebagai bahan pelajaran.

Jika kita melihat betapa tetap mapannya produsen jamu besar lain, seperti merek pesaing Nyonya Meneer yang sudah disebutkan di atas, tentulah pangsa pasar, daya serap pasar, atau daya beli konsumen bukanlah biang keladi dari kejatuhan produsen jamu asal Semarang tersebut. Apalagi, di tengah meningkatnya kesadaran publik (public awareness) akan isu-isu kesehatan.

Feedback   ↑ x
Close [X]