: WIB    --   
indikator  I  

OBOR dan tantangan China

Oleh Effnu Subiyanto
( Advisor CikalAFA-umbrella dan Direktur Koalisi Rakyat Indonesia Reformis )
OBOR dan tantangan China

Sekali lagi, China baru saja menyelesaikan proyek bergengsi jembatan Baipanjiang yang diklaim paling tinggi di dunia. Jembatan itu memiliki ketinggian 565 meter di atas permukaan laut, dan dibangun di atas Sungai Baipan,  sebuah sungai di negara ini yang memiliki risiko konstruksi yang paling sulit saat ini di dunia.

Panjang jembatan memang hanya 1,34 kilometer yang menghubungkan Kota Xuanwei di Provinsi Yunnan ke Kota Shuicheng di Provinsi Guizhou. Tapi jembatan ini efektif mempersingkat waktu tempuh dari semula lima jam perjalanan menjadi hanya satu jam. Yang mengejutkan, jembatan itu dibangun kurang dari tiga tahun mulai Oktober 2013 dan selesai sebelum akhir tahun 2016.

Total biaya yang diinvestasikan adalah CNY 1,023 miliar dengan total empat jalur. Jembatan Baipanjiang tercatat sebagai jembatan tertinggi ke-8 di antara 10 daftar jembatan tertinggi di dunia. Jembatan tersebut kemudian diresmikan untuk beroperasi secara formal sejak 29 Desember 2016.

Keberhasilan pembangunan jembatan "kecil" tersebut hanyalah sebuah langkah kecil bahwa China sebetulnya mampu mengorganisasi proyek raksasa bernama One Belt One Road (OBOR). Banyak indikator yang mendukung kemampuan China dalam bidang rancang bangun, misalnya pertumbuhan ekonominya sebesar 6,7% pada kuartal III-2016 lalu, surplus perdagangan mencapai US$ 49,06 miliar pada Oktober 2016, dan meningkatnya cadangan devisa mereka sebesar US$ 3,03 triliun akhir April tahun ini.

Meski utang Negeri Panda ini tercatat sebesar US$ 26 triliun atau 250% dari PDB US$ 10 triliun akhir-akhir ini, sistem moneternya masih sangat kuat memengaruhi negara lain. Ketika yuan melakukan devaluasi 2% pada Agustus 2015, efeknya telah menyebabkan banyak kerugian dalam mata uang regional.

Ringgit Malaysia merosot 13,3%, won Korea turun 7,9%, baht Thailand turun 7,4 %, yen Jepang merosot 4,8%, euro Eropa (-8,9%), real Brasil (-29,4 %), dolar Australia (-10,6%), dan rupiah Indonesia (-9,8%). Ini menunjukkan bahwa negara yang memiliki cadangan dalam jumlah besar US$ 3,03 triliun itu masih sangat dominan untuk memengaruhi dunia.

Kekuatan yuan China tidak akan berakhir. Mata uang ini juga secara resmi dipercaya sebagai bagian penting dari peta mata uang internasional dalam special drawing rights (SDR) sejak 1 Oktober 2016. Yuan saat ini telah memperoleh tingkat yang sama dengan dolar AS, yen Jepang, euro Eropa, dan poundsterling Inggris berdasarkan putusan IMF pada 30 November 2015.

Feedback   ↑ x
Close [X]