: WIB    —   
indikator  I  

Optimisme banteng

Oleh Harris Hadinata
Optimisme banteng

Kalau Anda penyuka swafoto alias selfie, bakal ada spot selfie baru buat Anda. Namanya Banteng Wulung. Lokasinya di sisi utara halaman depan gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Patung banteng ini diharapkan jadi ikon bursa. Banteng memang simbol optimisme terhadap pergerakan pasar saham. Makanya bursa yang bergerak naik disebut bullish. Ada harapan, indeks saham Indonesia bisa terus naik.

Bursa saham yang harga saham-sahamnya terus naik tentu bagus. Hal ini jadi indikasi kinerja emiten juga membaik dan pemodal optimistis melihat prospek bisnis emiten tersebut, sehingga membeli sahamnya. Bursa saham pun bisa memberikan untung bagi pemodalnya.

Tapi para pengelola bursa juga harus ingat, bursa saham bukan sekadar masalah cuan. Para pengelola bursa saham juga harus ingat menjaga kualitas pasar saham.

Saya pernah ngobrol dengan seorang petinggi sebuah perusahaan barang konsumer yang kini sahamnya dijual di bursa. Ia bilang, meski saham perusahaannya ada di BEI, ia sendiri ogah berinvestasi di pasar saham Indonesia. Ia lebih memilih berinvestasi di bursa asing, meski biayanya lebih besar, atau investasi di pasar valuta asing.

Menurut dia, terlalu banyak faktor yang tidak bisa diukur di bursa saham Indonesia. "Bandar yang menggerakkan saham banyak, spekulannya juga banyak, mau menghitung investasi jadi sulit," tutur dia. Si bos ini bahkan menilai risiko pasar valas, yang sejatinya lebih berisiko, masih lebih terukur ketimbang bursa saham Indonesia. Alasannya, pasar valas bergerak berdasarkan data makroekonomi global yang sumbernya jelas.

Pertanyaan soal kualitas bursa saham dalam negeri juga kembali menyeruak setelah dalam waktu yang berdekatan, ada dua emiten yang tersangkut kasus hukum. Satu emiten sudah dinyatakan sebagai tersangka, satu emiten lagi masih membantah melakukan pelanggaran hukum.

BEI juga tampak lebih fokus mengejar jumlah emiten yang IPO tiap tahun. Manajemen BEI berpendapat, sebaiknya emiten jangan menunggu perusahaan jadi besar untuk IPO, tapi IPO untuk jadi besar.

Mungkin pernyataan tersebut tidak salah. Tapi BEI juga harus hati-hati. Jangan sampai perusahaan kecil yang bisnisnya masih tidak jelas ikut IPO, tapi belakangan investor jadi rugi. "Ingat enggak, dulu ada emiten yang namanya RINA. Mereka IPO, beberapa tahun kemudian delisting. Kan, enggak asyik," cetus seorang analis.                                 

Feedback   ↑ x
Close [X]