: WIB    --   
indikator  I  

Out of the box

Oleh Th. Agung M. Harsiwi
( Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta )
Out of the box

Salah satu isu panas yang sempat menjadi viral saat kampanye Pilkada DKI Jakarta lalu adalah kredit kepemilikan rumah (KPR) tanpa down payment (DP) dengan jangka waktu pinjaman 30 tahun. Padahal biasanya cuma 10 tahun-15 tahun. Serta menggunakan uang muka yang besarnya menurut Bank Indonesia (BI), 15%-25%. Atau tergantung rumah ke berapa yang dibelinya.

Namun demikian, meski banyak yang meragukan, harus diakui, wacana tersebut cukup menarik. Kok bisa?

Ya. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, ide dan gagasan yang out of the box seperti itu memang sangat dibutuhkan. Bagaimana tidak, dari sekitar Rp 450 triliun per tahun untuk infrastruktur publik, termasuk permukiman. Belum semuanya bisa terpenuhi.

Bahkan sekalipun pemerintah sudah berusaha merangkul pihak lain agar bersedia ikut mendanai proyek pembangunan, pengembangan, serta pengelolaan proyek infrastruktur publik. Termasuk dunia usaha yang mempunyai dana corporate social responsibility (CSR). Tapi, masalahnya, meski mencapai Rp 10 triliun per tahun, ternyata tidak banyak perusahaan tertarik mengalokasikan CSR-nya ke pemukiman.

Kalaupun ada, paling terbatas pada infrastruktur yang sifatnya seremonial atau monumental. Seperti tugu, gapura, maupun ruang terbuka hijau. Karena, salah satunya, nilai beritanya tidak sebesar kegiatan CSR yang filantropis dan advertising. Seperti mudik lebaran bersama, pemberian beasiswa, bantuan bencana dan sejenisnya.

Feedback   ↑ x