: WIB    —   
indikator  I  

Pahlawan generasi milenial

Oleh Dadang Solihin
( Rektor Universitas Darma Persada )
Pahlawan generasi milenial

Tak ada yang bisa menyangkal jika peran generasi muda selalu menjadi tulang punggung dalam setiap terjadinya perubahan. Di Indonesia, setiap perubahan sosial itu selalu saja melibatkan kelompok generasi muda sebagai garda terdepan.

Pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya--yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan--melibatkan pula kaum muda sebagai motor penggerak. Sosok yang paling menonjol sekaligus juga sebagai pemimpin adalah Sutomo alias  Bung Tomo.

Usianya ketika itu baru menanjak 25 tahun. Perannya sangat sentral. Suaranya yang menggelora lewat radio mampu membangkitkan semangat juang arek-arek Suroboyo untuk melawan penjajah Belanda yang datang dengan mendompleng tentara NICA ke Tanah Air. Andai saja kita ilustrasikan usia Bung Tomo kala itu dengan generasi masa kini, boleh jadi sosoknya masih berstatus sebagai mahasiswa atau baru saja menyandang gelar sarjana.

Lantas, bagaimana dengan generasi muda masa kini? Sudahkah mereka mampu menjadi motor penggerak perubahan sosial di negeri ini? Inilah pertanyaan yang perlu dihadirkan ulang setelah 72 tahun kemerdekaan bangsa ini.

Untuk menjawabnya, rasanya sungguh tidak adil jika harus membandingkan peran perubahan yang dilakukan kaum muda pada masa Bung Tomo itu dengan generasi muda masa kini. Periodisasi waktu dan persoalan yang terjadi sungguh berbeda. Pada masa itu, kaum muda tampil sebagai penggerak perubahan dengan cara mengangkat senjata untuk melawan penjajah.

Pada masa kini, kaum muda yang lebih dikenal sebagai generasi milenial, tentunya memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi maupun melibatkan dirinya ke dalam pusaran perubahan sosial. Berdasarkan terminologi, generasi milenial ini dikelompokkan ke dalam generasi yang lahir pada rentang 1981-2000.

Kira-kira mereka ini berusia pada kisaran 17-36 tahun. Sementara mengutip riset Pew Research Center pada 2010 berjudul Millennials: A Portrait of Generation Next, kehidupan generasi milenial ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment ataupun hiburan (Hasanudin Ali: 2016)

Dalam sebuah artikel yang dikutip dari hipwee.com (2016), dijelaskan pula generasi milenial ini memiliki karakter berpikiran terbuka, mudah beradaptasi, multitasking, namun kurang fokus dan mudah bosan. Sedangkan baby boomers--generasi yang lahir antara tahun 1945-1976--identik dengan etos kerja tinggi, mandiri, dan mampu menjadi pemimpin yang baik, namun kurang bisa beradaptasi dengan perubahan.

Feedback   ↑ x
Close [X]