: WIB    —   
indikator  I  

Peluang masa depan Blockchain

Oleh Nofie Iman
( Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada )
Peluang masa depan Blockchain

Blockchain, yang pertama kali muncul tahun 2008, adalah arsitektur basis data terdistribusi yang memiliki kemampuan untuk mengelola transaksi tanpa perlu mengetahui atau mengenal pihak-pihak yang terlibat di dalamnya (trust-less). Bitcoin adalah salah satu bentuk mata uang digital (digital currency) yang memanfaatkan teknologi blockchain pertama kalinya.

 

Bicara tentang perdagangan dan transaksi keuangan sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari penjurnalan (ledger). Asal-muasal jurnal konon bisa ditelusuri hingga bangsa Mesopotamia kuno yang menggunakannya untuk mencatat transaksi. Pada zaman Renaissance, para pedagang di Italia mengembangkan pembukuan menjadi dua lajur (double-entry) yang lantas mendorong pesatnya perdagangan dan lahirnya perbankan.

 

Sejak saat itu, penjurnalan masih dilakukan secara manual (paper-based) hingga kini. Walaupun komputer modern sudah ditemukan sejak 1960an dan aplikasi serta basis data telah berkembang pesat, prosedur organisasional penjurnalan tidak berubah. Setiap institusi membuat jurnal mereka masing-masing, saling melakukan sinkronisasi dengan institusi lain, hingga diperoleh akurasi dan kesetimbangan.

Dalam setiap proses penjurnalan, melekat pula unsur kepercayaan (trust) antar-para pihak yang terlibat di dalam suatu transaksi. Kita cenderung lebih percaya pada pembukuan yang dibuat oleh institusi yang memiliki reputasi tinggi seperti bank atau pemerintah daripada pembukuan yang dibuat oleh mitra dagang kita—terutama untuk transaksi atau aset yang sangat material atau krusial. Oleh karenanya, perkembangan ledger menjadi cenderung terpusat (centralised ledger) pada institusi yang kita percaya seperti pemerintah atau bank.

Saya dan Anda masing-masing memiliki ledger. Bank menyimpan semacam “master ledger” yang mencatat simpanan yang Anda dan saya miliki. Bank sentral juga memiliki “master ledger” atas bank-bank umum yang berada di bawah supervisinya. Di atas itu, pemerintah (negara) juga memegang ledger dari bank sentral. Mengingat sifatnya yang tersentralisasi, maka agar seluruh sistem ini bekerja dengan baik, masing-masing pihak harus memelihara keandalan, ketepatan, dan yang paling penting kepercayaan.

Blockchain digadang-gadang sebagai salah satu terobosan teknologi yang revolusioner dan diprediksi akan mengubah tak hanya industri keuangan, melainkan juga perekonomian kita. Blockchain membawa konsep fundamental yang mengubah sifat ledger yang semula terpusat (centralised ledger) menjadi terdistribusi (decentralised ledger). Ledger tidak dipegang oleh satu pihak atau dua pihak, melainkan direplikasi dan didistribusikan kepada semua pihak yang berada dalam sistem.

Feedback   ↑ x
Close [X]