kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.177
  • SUN98,94 0,36%
  • EMAS612.058 -0,16%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Penjualan menurun, premium mengalah

Senin, 30 April 2018 / 17:23 WIB

Penjualan menurun, premium mengalah

Premium jadi barang “langka” sekarang. Badan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyebutkan, terjadi kekurangan pasokan Premium.

Keluhan masyarakat soal sulitnya memperoleh Premium sampai ke telinga Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sejurus kemudian, Jokowi langsung memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan untuk menjaga keamanan pasokan Premium di seluruh penjuru negeri.

Untuk itu, pemerintah akan merevisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Harga Bahan Bakar Minyak.

Isinya, Premium sebagai BBM Khusus Penugasan tidak saja berlaku di luar Jawa, Madura, dan Bali, tapi seluruh Indonesia.

Itu berarti, seluruh SPBU wajib menjual Premium. Soalnya, dua tahun terakhir, jumlah pom bensin yang tidak lagi melego BBM RON 88 itu terus bertambah, terutama di wilayah Jawa, Madura, dan Bali.

Benarkah Premium “langka”? Kenapa banyak SPBU yang tidak lagi menjual Premium? Bagaimana tanggapan pemilik SPBU terhadap kebijakan baru pemerintah terkait Premium?

Sekretaris Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Wilayah III Syarif Hidayat membeberkannya kepada  wartawan Tabloid KONTAN Lamgiat Siringoringo, Kamis (12/4) lalu. Berikut nukilannya:

KONTAN: Belakangan, Premium langka di sejumlah daerah di luar Jawa dan Bali. Apa yang sebenarnya terjadi?
SYARIF:
Yang terjadi sebenarnya bukan kelangkaan Premium. Tapi, yang membuat sempat ramai karena banyak SPBU yang sudah tidak menjual Premium lagi.

Premium dihilangkan, diganti dengan Pertalite. Kalau di Jawa, Madura, dan Bali, Premium sifatnya bahan bakar umum karena bukan lagi masuk penugasan dari pemerintah. Kecuali Solar yang masih bersifat penugasan. Kalau Premium sifatnya wajib dan harus ada hanya untuk wilayah di luar Jawa, Bali, dan Madura. Tapi, Premium harganya masih ditentukan oleh pemerintah.

KONTAN: Jadi, tidak ada kericuhan karena kelangkaan Premium di daerah?
SYARIF:
Saya belum mendengar ada kericuhan di daerah. Karena memang, tidak ada kelangkaan. Di Jakarta pun tidak ada keluhan yang besar.

Kemarin memang, setelah harga Pertalite naik, mungkin saja ada yang balik lagi ke Premium. Tetapi, karena ada SPBU yang tidak lagi menjual Premium, maka dibilang langka.

KONTAN: Termasuk, tidak ada masalah pasokan Premium dari Pertamina?
SYARIF:
Stok dari Pertamina tidak ada masalah. Malah, tahun ini kuota Premium yang diberikan pemerintah kepada Pertamina mencapai 7,5 juta kiloliter (kl).

Angka ini, kan, lebih besar daripada yang diajukan Pertamina sekitar 4 juta kl. Cuma, jumlah tersebut lebih kecil dibanding kuota Premium tahun lalu yang sebanyak 12,5 juta kl.

Pertimbangannya, kan, realisasi penyerapan Premium tahun 2017 hanya 5 juta kl. Bicara kuota, untuk tahun ini, hingga kini yang baru terpakai cuma 2,4 kl. Jadi sebenarnya, tidak ada masalah dari stok. Justru permintaan dari SPBU yang turun. Artinya, permintaan dari konsumen turun juga.

KONTAN: Itu sebabnya, banyak SPBU yang tidak lagi menjual Premium, termasuk di luar Jawa dan Bali walau masih penugasan?
SYARIF:
Jadi begini, semenjak Pertalite diluncurkan tahun 2015 lalu, ternyata respons masyarakat terhadap bensin jenis ini cukup baik. Sebab, kualitasnya memang lebih baik dibandingkan dengan Premium.

Sehingga, saat itu banyak pengusaha SPBU yang sudah menjual Pertalite dan penjualan Premiumnya turun. Ini diikuti oleh pengusaha lain.

Kondisi itu semakin diperkuat dengan kemampuan pengusaha SBPU yang ternyata memang terbatas. Jumlah tangki penyimpanan mereka terbatas.

Mungkin cuma empat tangki saja. Nah, di saat mereka ingin berjualan Pertalite yang menjadi produk baru, maka harus ada produk lama yang dikalahkan.

Keputusannya adalah, Premium yang mengalah yang juga tren penjualannya mulai menurun pasca Pertalite diluncurkan. Kondisi inilah yang terjadi.

KONTAN: Bukannya karena margin Pertalite lebih tinggi, ya, makanya lebih senang menjual produk ini?
SYARIF:
Iya, memang margin harga Pertalite menjadi satu faktor. Tetapi, itu tidak menjadi satu-satunya alasan. Teman-teman pengusaha SPBU juga mengatakan, karena animo masyarakat terhadap Pertalite besar. Kami, kan, melihat kebutuhan konsumen maunya apa.


Reporter: Lamgiat Siringoringo

Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-49,46
5.733,85
-0.86%
 
US/IDR
14.176
0,49
 
KONTAN TV
Hotel santika premiere Slipi
26 July 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×