: WIB    —   
indikator  I  

Penurunan suku bunga dan global

Oleh Bayu Kariastanto
( Kepala Bagian di Departemen Pengembangan Kebijakan Strategis OJK )
Penurunan suku bunga dan global

The Fed memutuskan melanjutkan rencana melakukan normalisasi kebijakan moneter. Kebijakan moneter ekstra longgar perlahan ditinggalkan seiring dengan berlanjutnya penguatan ekonomi Amerika Serikat (AS). The Fed akan menurunkan nilai total neracanya kembali ke nilai sebelum krisis keuangan 2008, yang berada di bawah US$ 900 miliar. Saat ini neraca The Fed di kisaran US$ 4,5 triliun.

Normalisasi neraca dilakukan dengan tidak menginvestasikan ulang pembayaran pokok pinjaman dari treasury bond dan efek terkait pinjaman perumahan (mortgage-realated securities). Pada tahap pertama, mulai Oktober 2017 setiap bulannya The Fed akan menarik investasi US$ 6 juta dari treasury bond dan US$ 4 juta dari mortgage-related securities. Diperkirakan saat ini The Fed memegang treasury bond dan mortgage-related securities masing-masing US$ 2,5 triliun dan US$ 1,8 triliun (Bernanke, 2017).

Selain itu, The Fed juga memberikan sinyal kuat akan mengerek suku bunga satu kali lagi  tahun ini. Meski sebelumnya pasar perkirakan The Fed tidak akan menaikkan lagi suku bunga, 2/3 ekonom yang di survei Bloomberg percaya The Fed akan menaikkan suku bunga di Desember 2017.

Sebenarnya tren pengetatan kebijakan moneter juga diambil oleh Bank Sentral Eropa. Akselerasi pertumbuhan ekonomi, penurunan pengangguran dan naiknya inflasi mendorong Bank Sentral Eropa untuk melanjutkan tapering pada awal tahun depan. Setelah memulai program tapering pada April lalu dengan menurunkan program pembelian obligasi dari € 80 miliar menjadi € 60 miliar.

Tren likuiditas ultra longgar dan suku bunga rendah pasca krisis keuangan global mulai berbalik dan perlahan likuiditas dan suku bunga global mulai naik menuju level pra krisis.

Berbeda dengan tren global, Indonesia terus mendorong penurunan suku bunga. Bank Indonesia (BI) sehari setelah pengumuman The Fed kembali menurunkan suku bunga acuan 25 bps. Ini penurunan kedua dalam satu bulan. Survei Bloomberg jelang RDG BI menunjukkan hanya 7 dari 27 ekonom yang berpendapat BI akan memangkas suku bunga acuan. Jadi penurunan tersebut diluar ekspektasi.

Di tengah defisit current account sejak 2012 dan kebutuhan dana untuk pembangunan infrastruktur, Indonesia sangat butuh aliran dana dari luar baik itu foreign direct investment (FDI), maupun investasi portofolio (investasi tidak langsung). Sejak 2014, nilai investasi portofolio lebih tinggi dari FDI. Sayang, investasi portofolio itu punya jangka waktu jangka pendek dan bisa berbalik arah kapan saja bila imbal hasil tak menarik.

Feedback   ↑ x
Close [X]