: WIB    —   
indikator  I  

Percepatan belanja

Oleh Joko Tri Haryanto
( Pengamat kebijakan fiskal )
Percepatan belanja

Realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga 2017 hanya mencapai 5,06% year-on-year (yoy). Meski lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2015 yang hanya 4,77%, atau 2016 sebesar 5,01%, pencapaian itu tetap dianggap sebagai ilustrasi dari melemahnya daya beli masyarakat belakangan ini.

Realisasi pertumbuhan kian terlihat rendah jika dibandingkan dengan konsensus dari proyeksi ekonom, yaitu  5,12%.

Yang menarik tentang pelemahan daya beli, riset Nielsen menyimpulkan, kecenderungan itu telah terjadi sejak lima tahun terakhir. Indikatornya adalah melorotnya pertumbuhan penjualan fast moving consumer goods (FMCG).

Istilah terakhir ini merujuk ke barang kebutuhan bulanan konsumen mulai sabun, kosmetik, pasta gigi, deterjen hingga produk minuman dan elektronik.

Hingga September 2017, pertumbuhannya hanya 2,7%. Angka itu  jauh lebih rendah dibandingkan pencapaian di 2015, misalnya, yang pernah menyentuh kisaran 11,5%.

Jadi, sinyalemen pelemahan daya beli masyarakat terjadi akhir-akhir ini terpatahkan dengan asumsi pelemahan daya beli sudah terjadi selama lima tahun terakhir.

Adanya pola pergeseran belanja masyarakat ke arah leisure sekiranya juga menguat didasarkan ke rilis pertumbuhan ekonomi berdasarkan lapangan usaha di triwulan III-2017 versi Badan Pusat Statistik (BPS).

Beberapa sektor usaha yang mencetak pertumbuhan terbesar, seperti informasi dan komunikasi (9,35), jasa lain-lain (9,45), jasa perusahaan (9,24), jasa kesehatan dan kegiatan sosial (7,44) serta transportasi dan pergudangan (8,27).

Realisasi ekspor juga membaik, dengan naik 24,01% yoy. Sedang impor naik 22,86% yoy. Investasi melaju kencang 13,7% yoy, dengan meroketnya penjualan mobil sebesar 7,79% yoy.

Untuk terus mendorong tercapainya momentum pertumbuhan, pemerintah merealisasikan banyak stimulus menuju tercapainya target pertumbuhan 5,1% di akhir tahun. Stimulus awal berupa pengesahan APBN 2018 yang relatif diterima positif oleh pasar.

Dengan menetapkan target pendapatan sebesar Rp 1.878,4 triliun dan belanja Rp 2.204,4 triliun, pemerintah dianggap lebih realistis dan moderat. Target defisit yang dipatok 2,19% dari PDB dengan defisit keseimbangan primer Rp 78,4 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan defisit di periode 2017 yang nilainya Rp 144,3 triliun.

Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter tak kalah sigap meluncurkan stimulus. Bunga acuan, yaitu BI 7 day reverse repo rate turun menjadi 4,5%. Penurunan ini diharapkan berujung ke pemangkasan bunga kredit perbankan hingga investasi sektor riil dapat meningkat lebih pesat.

Stimulus di sektor moneter tak berhenti di pemangkasan bunga. BI sudah menyiapkan berupa pelonggaran aturan rasio batas pemberian kredit atau loan to value (LTV) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

LTV ini akan diterapkan secara spasial, atau berbeda-beda antar daerah, menyesuaikan daya beli dan pertumbuhan ekonomi masing-masing.

Tujuannya jelas mendongkrak performa KPR yang hingga paruh pertama masih bertengger di kisaran 7,98%. Sementara KKB hanya tumbuh 4,2%.

Feedback   ↑ x
Close [X]