: WIB    --   
indikator  I  

Perilaku cadangan kredit

Oleh Ardhienus
( Bekerja di DSSK, Bank Indonesia (tulisan ini merupakan pendapat pribadi) )
Perilaku cadangan kredit

Tahun lalu, pembentukan cadangan kredit atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) masih cukup tinggi. Menurut laporan bank umum, sepanjang 2016 perbankan Indonesia telah membentuk cadangan kredit Rp 129,75 triliun, meningkat Rp 46,03 triliun (54,98%) dibandingkan 2015 yang tercatat Rp 83,72 triliun. Ini mengakibatkan laba bersih bank hanya tumbuh Rp 1,91 triliun (1,83%) dari Rp 104,63 triliun menjadi Rp 106,54 triliun.

Lebih baik memang dibandingkan perolehan laba 2015 yang tumbuh negatif 6,72% atau turun Rp 7,53 triliun dari 2014 yang tercatat Rp 112,16 triliun. Namun bila dicermati, lagi-lagi pembentukan cadangan kredit telah menyebabkan penurunan laba tersebut. Di 2015, pembentukan cadangan kredit telah meningkat Rp 30,43 triliun (57,10%) dibandingkan 2014 yang Rp 53,29 triliun.

Tingginya pembentukan cadangan kredit tersebut membuat bank berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Dampaknya pada perlambatan pertumbuhan kredit (yoy) hingga  menjadi 10,01% di 2015 dan 7,9% di 2016. Pada gilirannya kondisi ini akan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi (prosiklikalitas).

Perilaku pencadangan kredit memang sering kali dibicarakan oleh banyak kalangan terkait dengan krisis keuangan global 2008. Perilaku ini dituding telah menciptakan ketidakstabilan sistem perbankan/keuangan. Ini karena dalam kondisi ekonomi yang baik (boom), pembentukan cadangan kredit cenderung rendah sehingga mendorong penyaluran kredit menjadi berlebihan dan menyebabkan ekonomi tumbuh terlalu cepat. Sebaliknya tinggi ketika ekonomi memburuk (bust), sehingga menyebabkan seretnya penyaluran kredit (credit crunch) dan akibatnya pertumbuhan ekonomi melambat.

Tidak hanya itu. Dampak perilaku cadangan kredit tersebut terhadap fluktuasi laba perbankan juga relatif tinggi. Apabila dalam kondisi boom, laba perbankan tinggi seiring pembentukan cadangan kredit yang rendah. Sementara dalam kondisi bust, laba perbankan rendah. Bahkan tak jarang di bank-bank tertentu telah menimbulkan kerugian, akibat tingginya pembentukan cadangan kredit. Ini dilakukan bank sebagai respon atas meningkatnya kredit bermasalah ditengah melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Perilaku cadangan kredit yang prosiklikal terhadap siklus ekonomi sebenarnya tidak lepas dari regulasi akuntansi PSAK No.55 yang mengacu pada International Accounting Standard Board (IAS) 39. Regulasi itu menyebutkan bahwa cadangan kredit harus dibentuk ketika kualitas kredit menurun (impaired) atau terjadi tunggakan kredit. Perilaku cadangan kredit menjadi ex-post (backward looking) karena pembentukannya dikaitkan langsung dengan kredit bermasalah (incurred loss model).

Dengan demikian, tidak heran bila pembentukan cadangan kredit akan rendah pada kondisi ekonomi boom karena kredit yang tergolong bermasalah rendah. Sebaliknya ketika kondisi ekonomi memburuk, kredit bermasalah naik sehingga cadangan pun meningkat. Praktik pembentukan cadangan seperti ini selain menciptakan prosiklikalitas juga mengaburkan peran penting cadangan sebagai bantalan untuk mengantisipasi potensi kerugian kredit di masa datang.

Feedback   ↑ x
Close [X]