kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.590
  • EMAS593.896 0,51%

Perluasan basis pajak dengan tekfin

Kamis, 08 Februari 2018 / 13:12 WIB

Perluasan basis pajak dengan tekfin



Indonesia termasuk negara yang memiliki rasio pajak rendah. Penyebab utamanya adalah rendahnya kontribusi pajak penghasilan (PPh) perseorangan, terutama dari pengusaha (pengusaha besar, menengah atau kecil) dan pekerja bebas (profesional), misalnya pengacara, konsultan, arsitek, notaris, dokter dan sebagainya. Sebagai perbandingan, kontribusi PPh tahun 2017 yang dibayar karyawan (dalam hal ini mereka yang dibayar para pengusaha) sebesar Rp 117,74 triliun, sedangkan pengusaha atau pekerja bebas hanya memberikan kontribusi sebesar Rp 7,83 triliun.

Penyebab lainnya adalah masih tingginya underground economy di Indonesia. Aktivitas underground economy berpotensi menyebabkan hilangnya penerimaan negara melalui sektor perpajakan. Hasil penelitian Mulyawan (2017) secara empiris mengestimasi nilai underground economy berkisar antara Rp 289 triliun sampai Rp 958 triliun atau setara dengan 22,1% terhadap PDB.

Sementara itu, potensi pajak yang hilang berkisar antara Rp 23,32 triliun hingga Rp 1.467 triliun dengan rata-rata per tahun mencapai Rp 487,12 triliun atau setara dengan 1,9% dari PDB. Berbagai langkah telah ditempuh untuk memperluas basis pajak, salah satunya adalah dengan program pengampunan pajak.

Adapun definisi underground economy kurang lebih mirip cash economy dengan ciri khas menghindari transaksi yang tercatat oleh institusi yang resmi. Dengan demikian, hal tersebut berkaitan dengan inklusi keuangan.

Hasil survei Bank Dunia tahun 2014 menunjukkan bahwa hanya 36% penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal. Sementara itu, UMKM sebagai lembaga yang paling dominan di Indonesia, hanya 59% yang memiliki rekening dan 26% yang memiliki akses kredit.

Rendahnya tingkat literasi keuangan, hanya mencapai 22%, membuat inklusi jasa keuangan masih menjadi permasalahan tersendiri. Bandingkan dengan Thailand dan Malaysia dengan tingkat pencapaian sekitar 80%, bahkan Singapura sudah mencapai 96%.  

Sejatinya, berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk memperluas keuangan inklusif. Kebijakan ini bertujuan untuk pendalaman layanan keuangan pada seluruh lapisan masyarakat.

Layanan keuangan tersebut berupa pemanfaatan produk dan jasa keuangan formal seperti sarana menyimpan uang yang aman, transfer, menabung maupun pinjaman dan asuransi. Meskipun akses masyarakat terhadap layanan keuangan di Indonesia masih terbatas, tetapi dapat dipercepat dengan perluasan akses keuangan melalui teknologi digital.  

Salah satu metode yang digunakan adalah pemanfaatkan terobosan baru di bidang ekonomi digital, dalam bentuk transaksi jasa sektor keuangan atau teknologi finansial. Saat ini terdapat sekitar 184 penyedia teknologi finansial yang sebagian besar sudah tergabung dalam Fintech Indonesia, yang sebagian besar merupakan perusahaan start up.

Cakupan bisnis perusahaan teknologi finansial ini meliputi penyediaan software dan aplikasi keuangan pembayaran dan pembiayaan.  Jasa asuransi, perencanaan keuangan personal, investasi ritel, crowdfunding, remitansi, pembanding layanan finansial, maupun riset keuangan juga termasuk di dalamnya.

Meskipun membantu percepatan inklusi keuangan, peran regulator, yaitu Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan tetap dibutuhkan. Bank Indonesia berperan merespon kebijakan dalam bentuk mengakomodir inovasi, meningkatkan keamanan, membentuk level of playing field bagi seluruh pelaku industri dan melakukan perlindungan konsumen



TERBARU
MARKET
IHSG
108,39
5.892,19
1.87%
 
US/IDR
14.578
-0,28
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×