: WIB    —   
indikator  I  

Permusuhan sosial

Oleh Djumyati Partawidjaja
Permusuhan sosial

Memasuki tahun 2018, banyak orang mulai khawatir perseteruan dan perdebatan di dalam masyarakat kita yang sudah mulai mereda akan kembali memanas. Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang akan memilih 171 kepala daerah di provinsi dan kota atau kabupaten itu sangat mungkin memantik api perseteruan kembali membesar.

Beberapa tahun lalu, pemilihan kepala daerah seringkali tidak mendapatkan banyak perhatian. Bahkan banyak orang yang tidak peduli, siapa yang akan menjadi kepala daerahnya. Jadi maklum saja, kalau segala keramaian pemilihan kepala daerah berada dalam “keheningan”. Paling-paling keramaian dalam bentuk perang spanduk dan “serangan-serangan fajar”.

Tapi semuanya berubah sejak Pilkada serentak di tahun 2017, tepatnya Pilkada di DKI Jakarta. Keramaian pun tidak hanya di dunia nyata, keramaian yang lebih brutal terjadi di dunia maya. Tentu saja,  keramaian di dunia maya akan lebih brutal karena satu orang di dunia nyata bisa menjelma menjadi puluhan bahkan ratusan ribu “orang” di dunia maya.

Kemampuan meyakinkan lawan bicara yang lebih banyak berbentuk audio di dunia nyata, jadi berbentuk audio dan visual di dunia maya. Opini yang agak kehilangan logikanya  bisa menjadi masuk logika dengan menambahkan cerita-cerita bohong, lengkap dengan gambar supaya bisa lebih meyakinkan.

Walau semuanya dimulai dari dunia maya, tapi perpecahan, kemarahan, dan permusuhan yang terjadi adalah nyata. Media sosial yang awalnya jadi tempat untuk menemukan teman-teman lama, berbagi cerita dengan teman-teman, sudah menjadi arena bertempur. Dan pertempuran serta perpecahan itu masuk ke dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, serta pribadi orang-orang.

Rasanya naif sekali kalau kita berharap masalah permusuhan sosial ini akan bisa berhenti begitu saja. Atau akan bisa berhenti hanya karena kita mengimbau orang-orang untuk waspada betapa berbahayanya “api kemarahan” dari media sosial tersebut.

Saya rasa harus ada upaya yang lebih terstruktur untuk bisa menangani masalah ini. Sudah saatnya “polisi” dunia maya bisa lebih pintar untuk menangkapi “preman” dan para produsen kebencian dan kebohongan di dunia maya. Tanpa ada upaya itu semua, negeri kita hanya akan menjadi negara dengan penduduk ke-4 terbesar di dunia yang berada dalam kekacauan.

Feedback   ↑ x