kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.923
  • SUN98,38 -0,17%
  • EMAS611.050 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Pilkada 2018 dan indeks kerawanan

Selasa, 09 Januari 2018 / 11:30 WIB

Pilkada 2018 dan indeks kerawanan

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 merupakan perhelatan terbesar dibandingkan dengan dua penyelenggaraan pilkada serentak sebelumnya, yakni 2015 dan 2017. Pasalnya, kontestasi elektoral 2018 melibatkan 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Bahkan di antaranya merupakan provinsi "raksasa" dengan penduduk terpadat: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Merujuk data Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada sekitar 158 juta penduduk akan terlibat dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Sebuah angka yang cukup tinggi lantaran hampir mencapai 80% dari total pemilih nasional. Sebagai perbandingan, pada pilkada serentak  2015 yang diikuti 269 daerah, jumlah pemilihnya sebanyak 96 juta orang. Sedangkan pada pilkada serentak 2017 kemarin yang dihelat di 101 daerah, jumlah pemilih yang terlibat hanya 41 juta pemilih saja.

Tak hanya itu, dari sisi anggaran juga cukup fantastis karena mencapai Rp 11,9 triliun. Ini jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan anggaran untuk pilkada serentak pada tahun  2015 yang mencapai Rp 7,1 triliun, atau pilkada serentak tahun lalu yang hanya Rp 4,2 triliun.

Wajar bila kemudian banyak yang menyebut pilkada serentak 2018 adalah parameter utama peta politik menuju pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019. Dengan lumbung suara yang berlimpah itu, kemenangan dalam hajatan demokrasi 2018 merupakan satu langkah menuju kemenangan pada Pilpres 2019.

Di sini, seluruh partai politik tentu akan memaksimalkan segala mesin politik dan menggunakan strategi terbaiknya untuk memenangi pertempuran pilkada. Inilah yang barangkali menjadi sebab mengapa pilkada serentak 2018 memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi.

Berdasarkan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP), pilkada serentak 2018 yang dirilis Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), ada sejumlah daerah yang tergolong memiliki titik rawan. Faktor pemicu kerawanan tinggi di beberapa daerah berupa politik uang, keberpihakan petugas penyelenggara, kontestasi antarcalon, pemenuhan hak pilih warga, netralitas pegawai negeri sipil (PNS), penggunaan media sosial, dan penggunaan politik identitas.

Dari akumulasi seluruh aspek pemicu kerawanan yang ada, tiga provinsi yang dikategorikan paling rawan adalah Provinsi Papua, Provinsi Maluku, dan Provinsi Kalimantan Barat. Sementara untuk kabupaten/kota, terdapat enam daerah yang dinilai paling rawan, yakni Mimika, Paniai, Jaya Wijaya, Puncak (Papua), Konawe (Sulawesi Utara), dan Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur).

Sementara itu, terkait penggunaan politik identitas, ada 22 daerah yang masuk kategori titik rawan. Daerah tersebut terdiri atas delapan provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Maluku, Maluku Utara, serta Papua. Selain itu ditambah ada 14 daerah kabupaten/kota.

Indeks Kerawanan Pemilu sendiri disusun dari tiga aspek utama, yaitu penyelenggaraan, kontestasi, dan partisipasi. Dari tiga aspek itu kemudian diturunkan menjadi 10 variabel dan 30 indikator sebagai alat ukur kerawanan. Indeks kerawanan yang dikeluarkan terdiri dari indeks rendah antara 0-1,99, indeks sedang 2,00-2,99, dan indeks tinggi 3,00-5.00.

Yang menarik, dari seluruh aspek pemicu kerawanan itu, politik identitas tergolong baru dan belum pernah menjadi indikator pada pilkada serentak sebelumnya. Aspek ini memang mendapat perhatian khusus dari pemerintah guna menghindari ketegangan akibat adanya sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (sara) sebagaimana yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Tentu titik rawan dan potensi ancaman yang dikeluarkan Bawaslu patut diapresiasi. Ini penting sebagai upaya melakukan deteksi dini dan menyusun langkah antisipasi.



Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-150,76
5.842,87
-2.52%
 
US/IDR
13.902
0,25
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×