: WIB    —   
indikator  I  

Psikologi konsumen

Oleh Uji Agung Santosa
Psikologi konsumen

Kotler & Armstrong dalam bukunya Principles of Marketing (2008) mengatakan, pilihan atau keputusan pembelian konsumen dipengaruhi empat faktor psikologis utama. Empat hal itu adalah motivasi, persepsi, pembelajaran, serta kepercayaan dan sikap. Dari sisi motivasi, Abraham Maslow kemudian menjelaskan mengapa seseorang terdorong oleh kebutuhan tertentu pada saat tertentu.

Dalam teori motivasinya, Maslow menyebutkan, kebutuhan manusia tersusun dalam sebuah hirarki, dari yang paling mendesak sampai yang kurang mendesak. Dari segi kepentingannya, hirarki kebutuhan dimulai dari kebutuhan fisiologi, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan diri, dan kebutuhan aktualisasi. Orang akan berusaha memuaskan kebutuhan yang paling penting terlebih dahulu. Pada saat kebutuhan tersebut terpenuhi, kebutuhan tersebut akan terhenti sebagai motivator dan dia akan memenuhi kebutuhan paling penting selanjutnya.  

Teori tentang pemasaran itu kembali terasa penting seiring dengan klaim adanya perubahan pola belanja barang menjadi belanja kesenangan (leisure), seperti jalan-jalan atau rekreasi, jajan, menginap di hotel, kegiatan budaya, dan berwisata. Perubahan pola konsumsi itu tergambar dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan konsumsi pada komponen leisure yang terus naik.

Pada kuartal IV- 2016, konsumsi leisure tumbuh 5,1% dan terus meningkat di kuartal II-2017 menjadi sebesar 6,3%. Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi komponen non-leisure pada kuartal IV-2015 tumbuh 5%, sedangkan di kuartal II-2017 tumbuh negatif menjadi 4,3%.

Yang menjadi pertanyaan, apakah perubahan pola konsumsi itu mengindikasikan hirarki kebutuhan fisiologi dan kebutuhan keamanan masyarakat secara umum sudah terpenuhi? Sehingga masyarakat mengalihkan kebutuhannya ke kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi. Menurut Maslow, kebutuhan sosial meliputi kebutuhan terhadap persahabatan, berkeluarga, berkelompok, dan interaksi.

Atau apakah perubahan konsumsi masyarakat ini lebih sebagai dampak perubahan budaya digital, seiring dengan merebaknya penggunaan media sosial? Atau apakah perubahan pola konsumsi ini hanya berlaku bagi generasi milenial. Sebab menurut BPS, masyarakat kelas menengah atas memilih menahan belanja dan lebih banyak menyimpan dana di perbankan.                 

Feedback   ↑ x
Close [X]