: WIB    —   
indikator  I  

Saracen, etika bisnis dan liberal arts

Oleh Jony Eko Yulianto
( v )
Saracen, etika bisnis dan liberal arts

Fenomena terbongkarnya sindikat Saracen oleh Polri menarik untuk kita cermati karena setidaknya ada dua alasan. Pertama, ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoax) terbukti telah menjelma menjadi elemen penting dalam situasi masyarakat yang terpolarisasi, sehingga kapitalisasi ujaran kebencian dan berita bohong dalam bentuk bisnis laku dicari oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyerang lawan politiknya.

Interpretasi lainnya, munculnya Saracen ini juga dapat dibaca sebagai kejeniusan para sindikat melihat peluang (opportunity recognition) dari menguatnya kebutuhan beberapa pihak tertentu untuk menyebarkan ujaran kebencian dan berita bohong agar dipercayai sebagai kebenaran. Mereka menyadari bahwa sebagian masyarakat yang terafiliasi dengan pihak politik tertentu membutuhkan amunisi untuk menyerang lawan politik, sekaligus memberikan penguatan kepada pendukung bahwa mereka berada di pihak yang tepat.

Kedua, beberapa media nasional mencatat bahwa para anggota sindikat itu tergolong orang-orang cerdas dan berpendidikan tinggi. Para pelaku sindikat amat menguasai target pasar, mampu menggunakan bahasa persuasi yang berbeda untuk kelompok pengguna media sosial yang berbeda, dan fasih mengelola ribuan followers  untuk terus secara masif menyebarkan informasi bohong dan ujaran kebencian.

Para pelaku sindikat Saracen beraksi sesuai dengan pesanan klien: mempromosikan tokoh politik tertentu, mengkritik kinerja pemerintahan pusat, menyerang lawan politik, atau jenis-jenis pesanan lainnya. Semuanya dikelola secara terstruktur. Kemampuan untuk memberikan pelayanan terbaik merupakan salah satu elemen kunci yang akan menentukan sejauhmana sebuah bisnis dapat berkembang dan bertahan dengan baik. Persoalannya, objek bisnis Saracen bertentangan dengan etika bisnis.

Kedua poin di atas sangat penting untuk menjadi perhatian dan refleksi kita, khususnya dalam konteks membangun usaha rintisan (start up) maupun menjalankan bisnis. Bahwa pengetahuan dan kemampuan daya nalar harus diimbangi dengan penguasaan etik dengan sama baiknya. Menguasai kompetensi dan skil berbisnis tanpa memiliki standar penerapan etik yang tinggi akan berpotensi menjadi bisnis yang melanggar hukum.

Feedback   ↑ x
Close [X]