: WIB    --   
indikator  I  

Saudi, China, dan investasi di pulau kecil

Oleh Rokhmin Dahuri
( Guru Besar IPB/Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2001-2004) )
Saudi, China, dan investasi di pulau kecil

Saudi Arabia–negeri yang sedang ramai diperbincangkan di Indonesia karena kunjungan Raja Salman Bin Abdul Aziz yang fantastis dengan membawa rombongan 1.500  orang–kini tengah melakukan transisi, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya.  Kunjungan Raja Salman ke Bali–bukan ke Lombok yang mempunyai destinasi wisata syari’ah–tampaknya ingin menjelaskan kepada dunia bahwa Saudi telah berubah: secara budaya lebih inklusif dan menerima perbedaan. Selama ini  Saudi dikenal tertutup dan konservatif, sulit melakukan reformasi dan perubahan.

Kota Mekah, misalnya, sejak zaman Nabi disebut Tanah Haram yang implikasinya diterjemahkan penguasa Saudi: tidak boleh ada orang lain selain muslim tinggal di Mekah. Orang Kristen dilarang menginjakkan kaki di Tanah Haram (Mekah). Begitu pula Madinah. Karena itu dua kota ini disebut “haramain”--dua kota suci yang “haram” atau terlarang diinjak  tanahnya oleh orang non-Islam. Padahal dulu, waktu nabi membangun Madinah sebagai pusat pemerintahan, kota ini terkenal inklusif.

Disebut Madinah karena kota ini bersifat inklusif (madani), dihuni oleh berbagai macam manusia dari suku dan agama yang berbeda-beda.  Begitu pula Kota Mekah. Sebagai kota perdagangan internasional saat Nabi masih hidup, Mekah adalah kota persinggahan para pedagang yang berasal dari Asia, Afrika, bahkan Eropa. Almarhum Dr. Kuntowijoyo, sejarawan UGM menyebutkan Mekah adalah pusat pertemuan budaya dari berbagai bangsa-- Arab,  Siria, Persia, Romawi, Hindustan dan China.

Feedback   ↑ x