: WIB    --   
indikator  I  

Setelah bunga naik, cenderung krisis

Oleh David Sumual
( Chief Economist Bank Central Asia )
Setelah bunga naik, cenderung krisis

Kendati sudah diperkirakan, kenaikan Fed Fund Rate tetap mengguncang pasar keuangan dunia. Di Asia, bursa-bursa saham mengalami koreksi, sehari setelah Federal Reserves menaikkan bunga acuan di Amerika Serikat (AS), 14 Juni kemarin.

Posisi The Greenback di pasar finansial semakin kuat karena pekan berikutnya, sinyal kenaikan bunga kembali beredar. Pemicunya adalah peningkatan penyerapan pekerja.

Sinyal bahwa Fed Fund Rate yang kini berada di kisaran 1%–1,25% akan kembali dikerek naik menyebabkan arus mudik dollar AS kian deras. Tekanan terhadap berbagai valuta di seluruh dunia, tak terkecuali rupiah, kembali muncul.
 

Menjelang libur panjang Lebaran, nilai tukar rupiah tergerus. Kurs acuan JISDOR tergerus 0,03% pada 21 Juni menjadi Rp 13.301. Di pasar spot, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 0,08% menjadi 13.292.
 

Seperti apa dampak naik-turunnya bunga acuan di AS terhadap makroekonomi Indonesia? Untuk mengetahui jawabnya, Wartawan KONTAN Marantina Napitu mewawancarai Chief Economist Bank Central Asia David Sumual. Berikut nukilannya:

KONTAN: Apa alasan utama The Fed menaikkan suku bunga Juni lalu?
DAVID:
Ini cerita panjang yang bermula setelah krisis global tahun 2008. Saat itu, Pemerintah AS melakukan bailout melalui program Trouble Asset Relieve Program (TARP). Tujuannya menyelamatkan beberapa bank besar dan satu perusahaan asuransi besar di AS.

Pemerintah AS melakukan berbagai upaya untuk memulihkan ekonominya, baik dari sisi fiskal dan moneter. The Fed pernah melakukan quantitative easing (QE) tahap ke-1 dan ke-2. Ada target pembelian surat berharga sekitar US$ 100 miliar setiap bulannya.

Lalu, operation twist yang berupa penjualan obligasi jangka pendek dan pembelian obligasi jangka panjang. Ada pula QE3 yang sifatnya open ended. Pembeda QE3 dengan QE sebelumnya adalah tidak ada target pembelian surat berharga, termasuk mortgage back securities yang kerap disebut toxic asset.

Setelah itu, ekonomi AS mulai pulih. Angka pengangguran AS turun, hingga ke 4,3% pada Mei silam. Ini angka terendah dalam satu dekade terakhir. Penyerapan tenaga kerja juga semakin bagus.

Indikasinya banyak, seperti non-farm payroll yang meningkat. Intinya, dari segi tenaga kerja, ekonomi AS menunjukkan perbaikan. Manufaktur juga demikian. Tapi, laju inflasi masih rendah, belum setinggi ekspektasi The Fed.

KONTAN: Apa yang membuat inflasi di AS rendah?
DAVID:
Inflasi disebut rendah karena belum mencapai target The Fed, yakni 2%. Penyebabnya, harga minyak relatif mendatar. Bandingkan harga di awal 2016, yang berkisar US$ 30 per barel, dengan kisaran harga sekarang,  US$ 48 – US$ 50 per barel. Ini yang membuat inflasi  AS masih terkendali.

Harga minyak dalam jangka menengah tetap stabil di kisaran US$ 45 – US$ 50 per barel. Penyebabnya, kelebihan pasokan anggota-anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Arab Saudi kerap menaikkan produksi, sekitar 10 juta barel per hari. Sementara AS, produksinya meningkat hampir dua kali lipat. Setelah ditemukannya teknologi fracking, Amerika bisa menyerap minyak dari lapisan sedimen ditarik dengan hidrolik. Teknologi membuat cadangan minyaknya meningkat dari 5 juta barel per hari hingga kisaran 8 juta – 9 juta barel per hari.

Pasokan berlimpah dan pengelolaan stok minyak di AS bagus. Setiap harga minyak mencapai US$ 55 per barel, jumlah pengeboran bertambah. Jika harga minyak sudah di atas US$ 45, perusahaan minyak akan menuai untung. Ini penyebab inflasi AS relatif rendah.

Faktor kedua, China sebagai factory of the world mengalami masalah kelebihan pasokan. Dia bisa memproduksi barang dengan harga murah karena average cost murah. Yang sekarang terjadi adalah buyer’s market atau consumer’s market. Jadi, barang yang cari uang sehingga harga belum naik.

KONTAN: Seberapa lama tren kenaikan bunga di AS akan berlangsung?
DAVID:
Proyeksinya, The Fed akan menaikkan lagi suku bunga di akhir tahun sebesar 25 basis poin lagi. Di tahun depan, The Fed kemungkinan menaikkan bunga hingga tiga kali.

Memang tren ekonomi AS masih meningkat sampai akhir 2018. Kita lihat juga ekonomi global mulai solid. Ada indikasi perbaikan. Pertumbuhan ekonominya 3% dan berpotensi tumbuh jadi 3,2% sampai akhir tahun ini atau akhir 2018.

Sebelumnya, memang sudah ada prediksi, kalau Donald  Trump terpilih sebagai presiden, The Fed akan menaikkan bunga sebanyak empat kali atau lima kali di 2017. Mereka optimistis kebijakan ekonomi Trump, terutama dari segi fiskal, bisa memulihkan ekonomi.

Trump mau menerapkan pajak dengan tarif flat 15%. Lalu, pemberian dana untuk pengembangan infrastruktur senilai US$ 1 triliun dalam 10 tahun. Ia juga berjanji menciptakan 25 juta lapangan pekerjaan baru.

Feedback   ↑ x
Close [X]