: WIB    —   
indikator  I  

Siapkah bank syariah sambut era VUCA?

Oleh Bambang Rianto Rustam
( Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisaksi )
Siapkah bank syariah sambut era VUCA?

Bennet dan Lemoine pada awal tahun 2014 menulis sebuah artikel menarik di Harvard Business Review tentang perubahan lanskap bisnis dunia zaman now yang sekarang lebih ngetren dan dikenal sebagai istilah VUCA. Yakni singkatan dari  volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas) dan ambiguity (ambiguitas).

Situasi VUCA itu menurut pengamatan penulis beberapa tahun belakangan tidak hanya melanda bisnis dunia tetapi juga telah merubah lanskap Indonesia termasuk industri keuangan syariah. Industri keuangan syariah Indonesia pada kondisi terkini begitu merasakan betapa lanskap bisnis zaman now serba volatile, serba tidak pasti, serba kompleks dan ambiguitas akibat datangnya disrupsi-disrupsi besar yang berkembang beberapa tahun terakhir termasuk akibat hadirnya financial technology atau fintech baik dibidang dana, pembiayaan maupun sistem pembayaran.

Di era VUCA sebagaimana yang terjadi saat ini menurut pengamatan penulis terdapat beberapa karakteristik VUCA yang perlu diwaspadai bank syariah.

Pertama, karakteristik volatiliti adalah tantangan tidak terduga dan tidak diketahui berapa lamanya tetapi tantangan ini tidak terlalu sulit dimengerti dan pengetahuan tentang itu sering tersedia. Misalnya harga yang berfluktuasi. Produk bank syariah yang  punya skema jual beli, ijarah muntahiyya bittamlik merupakan skema yang secara nature-nya rawan terkena volatility. Produk pembiayaan pemilikan rumah diantaranya adalah produk yang volatile dibiayai bank syariah. Pendekatan yang bisa dilakukan oleh bank syariah menghadapi era VUCA ini antara lain merekrut talent yang dapat meminimalkan risiko bank syariah dalam bisnisnya.

Kedua, karakteristik ketidakpastian adalah, meskipun kurang informasi, penyebab dasar dan akibat dari peristiwa yang diketahui. Misalnya peluncuran produk pesaing mengacaukan bisnis dan pasar. Seperti kehadiran Grab dan Uber di transportasi. Pendekatan yang dapat dipersiapkan oleh bank syariah adalah berinvestasi di informasi. Mengumpulkan informasi dan menambah jaringan analisis informasi akan bisa mengurangi ketidakpastian yang tengah berlangsung.

Ketiga, karakteristik kompleksitas. Banyak bagian dan variabel yang saling berhubungan. Beberapa informasi tersedia dan bisa diprediksi tapi jumlah ataupun sifatnya sangat banyak untuk diproses. Misalnya bila bank syariah ingin berbisnis di banyak negara maka di tiap negara itu pasti memiliki banyak aturan yang berbeda. Untuk menghadapi hal itu maka bank syariah harus merekrut sumber daya yang memadai untuk mengatasi kompleksitas.

Feedback   ↑ x
Close [X]