: WIB    —   
indikator  I  

Sinkronisasi pengadaan alat pertahanan

Oleh Bimo Joga Sasongko
( Pendiri Euro Management Indonesia )
Sinkronisasi pengadaan alat pertahanan

Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 yang diselenggarakan di Makassar  pada 10 Agustus 2017 memang sudah lewat. Tapi perhelatan tersebut justru menyisakan masalah pengadaan alat utama sistem pertahanan.

Peringatan itu tidak bisa lepas dari industri penerbangan di Bandung. Kota ini telah menjadi kawah Candradimuka bagi ikon Hakteknas yakni prototipe pesawat N-250 rancang bangun PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Ikon yang bernama Gatotkaca itu pada tanggal 10 Agustus 1995 menjelajahi dirgantara selama  satu jam dalam misi terbang perdana.

Spirit Hakteknas seharusnya jadi momentum menata strategi industrialisasi dan transformasi teknologi. Mengingat Industri strategis atau industri hankam telah berusia 41 tahun, seharusnya sudah mencapai tahap korporasi yang matang yang didukung oleh portofolio kompetensi SDM yang terspesialisasi dengan baik. Sehingga bisa mendukung kebutuhan alat pertahanan terutama untuk operasional TNI AU.

Kasus korupsi yang terkait pembelian helikopter AgustaWestland (Heli AW 101) yang didatangkan dari pabrikan Inggris-Italia merupakan indikasi bahwa pengembangan alat pertahanan selama ini belum searah dengan industri strategis. Pengadaan heli menyimpang karena tidak sesuai dengan spesifikasi. Pintu heli tersebut bukan ramp door, padahal PT DI bisa membuat spesifikasi heli seperti yang ditentukan.

Ini jelas ironi, mengingat tantangan bidang hankam ke depan makin krusial. Apalagi Presiden Joko Widodo menyebut lanskap politik global dan ancaman hankam sudah berubah. Maka, perlu pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk antisipasi perubahan itu.

Postur SDM bidang hankam ditantang kemampuannya untuk hasilkan metode pengamanan yang paling tepat bagi Indonesia. Menurut Presiden, program pengadaan alat pertahanan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, pengadaan tank harus dievaluasi karena mungkin saja saat ini sudah kurang diperlukan, diganti dengan drone atau pesawat nirawak.

Namun rencana strategis tersebut tidak bisa terlepas dari pengembangan  sumber daya manusia. Pengembangan meliputi personel TNI AU maupun kalangan sipil yang menggeluti teknologi penerbangan dan infrastruktur pendukungnya. Dalam rencana strategis (renstra) ditekankan program untuk peremajaan atau pengganti alat pertahanan antara lain pesawat F-5E/F Tiger II yang diproyeksikan pada dua kandidat utama, yaitu Sukhoi Su-35 Super Flanker buatan Rusia, dan F-16 Viper buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat. Dan pilihan jatuh ke Sukhoi Su-35 Super Flanker.

Selain itu juga pemutakhiran armada pesawat angkut berat sekelas C-130 Hercules, helikopter angkut berat dan pemutakhiran pesawat latih jet jenis  T-50i dari Korea Aerospace Industry, Korea Selatan. Serta melengkapi dengan radar dan sistem persenjataannya.

Feedback   ↑ x
Close [X]