: WIB    —   
indikator  I  

Siri

Oleh Bagus Marsudi
Siri

Seminar 'Cara Kilat Mendapatkan 4 Istri' yang rencananya bakal diselenggarakan Dauroh Poligami Indonesia pada 3 Desember nanti menuai kehebohan. Entah karena judul seminarnya mengundang perhatian atau topiknya memang mengena, yang pasti, seminar itu mengundang pro dan kontra.

Bagi yang penasaran dengan acara itu, mungkin mereka benar ingin tahu, bagaimana kiat beristri lebih dari satu. Apalagi, teaser seminar itu memang menarik: Banyak suami yang ingin berpoligami... namun tidak mengerti harus mulai dari mana? Bagaimana menyiapkan istri agar siap dengan keputusan suaminya berpoligami?

Namun, tidak sedikit juga yang menganggap seminar ini tidak layak diadakan, karena dianggap merendahkan harkat kaum wanita. Apalagi, tanpa diseminarkan, aturan hukum positif poligami sudah jelas. Dengan persetujuan istri pertama, poligami diperbolehkan jika istri tidak menghasilkan keturunan atau menderita cacat tetap (lihat UU No. 1/ 1974 tentang Perkawinan).

Meski penyelenggara menyatakan bahwa seminar itu merupakan bagian dari edukasi ke masyarakat soal  pernikahan yang baik dan proporsional, para aktivis hak perempuan bersikap sinis. Salah satu anggota Komisioner Komnas Perempuan bahkan menyebut bahwa ada agenda bisnis, yakni memperdagangkan perempuan dengan modus seminar.

Benar tidaknya, memang harus dibuktikan. Namun, belum terhapus dari ingatan kita soal kehebohan kasus situs www.nikahsirri.com beberapa bulan lalu. Pengelola  situs itu mengiming-iming penghasilan ratusan juta rupiah bagi perempuan atau laki-laki yang tertarik menjadi mitra (calon pencari pasangan). Tagline nikahsirri.com juga tak kalah heboh: mengubah zinah menjadi ibadah. Sejauh ini, polisi menganggap situs itu bentuk praktik prostitusi terselubung.

Bukan rahasia lagi, praktik nikah siri maupun kawin kontrak tanpa selubung sudah terang benderang terjadi. Di kawasan Puncak, masyarakat sudah tahu sama tahu, praktik ini kerap terjadi. Anehnya, semua pihak seolah menutup mata, membiarkan semua berjalan seperti biasa, aman tanpa ada penggerebekan.Hampir tidak ada komentar miring, sikap sinisme, apalagi menyoal.

Bukan berarti membenarkan, tapi mungkin ini jadi problem serius penegakan hukum kita. Mungkin terlalu gencar mencegah, tetapi kurang gereget dalam penindakan atau penegakan aturan. Jangan hanya gaduh di seminar dan internet, tapi senyap saat berada di Puncak.     

Feedback   ↑ x
Close [X]