: WIB    —   
indikator  I  

Spin off Asuransi Bumiputera Syariah

Oleh Bambang Rianto Rustam
( Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti )
Spin off Asuransi Bumiputera Syariah

Tahun 2017 perkembangan asuransi syariah penulis perkirakan akan makin membaik. Kontribusi bruto asuransi syariah diperkirakan akan lebih membaik dari periode tahun sebelumnya yang berada pada angka 15 %. Salah satu  faktor pendorong lahirnya optimisme tersebut adalah didorong oleh makin banyaknya pemain asuransi yang beroperasi menjadi full syariah. Hal ini merupakan kado yang menggembirakan bagi kita semua menyambut akan datangnya bulan suci Ramadan di akhir Mei 2017.

Sampai dengan awal tahun 2017, data memperlihatkan bahwa dari 57 pemain di industri asuransi syariah, 10 perusahaan sudah beroperasi resmi syariah dan sisanya masih beroperasi dalam bentuk unit usaha syariah (UUS). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pembuat regulasi masih memberikan waktu beroperasi secara unit usaha syariah sampai dengan tahun 2024. Salah satu asuransi yang telah menetapkan langkah spin off menjadi asuransi full syariah adalah Asuransi Jiwa Syariah Bumiputera.

Sebulan yang lalu Asuransi Jiwa Syariah Bumiputera (AJSB) memberitahukan operasinya kepada publik, diantaranya melalui Harian KONTAN terbitan 12 April 2017 sebagai perusahaan yang terpisah dari AJB Bumiputera 1912. Adanya spin off asuransi jiwa syariah dimaksud tentunya akan dilanjutkan dengan berbagai proses lainnya. Antara lain pengalihan nasabah lama yang memegang polis produk asuransi syariah dari AJB Bumiputera.

Dengan demikian, pemegang polis dari seluruh produk unit usaha syariah AJB Bumiputera akan diambil alih oleh AJSB yang ditargetkan telah selesai di bulan April 2017. Untuk tidak meresahkan nasabah, AJSB telah memastikan bahwa  hak-hak pemegang polis, peserta maupun ahli waris tetap sama. Semua ketentuan  perjanjian polis dengan Unit Usaha Syariah (UUS) AJB Bumiputera yang ada sebelumnya tetap berlaku tanpa perubahan. Selain mendapat limpahan nasabah lama, dipastikan AJSB akan bisa mendapatkan nasabah baru.

Berdasarkan pengalaman penulis, pengembangan bisnis asuransi syariah berpayung unit usaha syariah dalam praktiknya terdapat banyak faktor negatif yang menyebabkan UUS ini kurang berkembang maksimal. Pertama, banyak kebijakan kantor pusat UUS yang kurang kondusif akibat harus inline dengan kantor pusat konvensionalnya. Dalam pengembangan strategi pemasaran dan pengembangan produk serta pengembangan teknologi informasi harus senada dengan asuransi konvensional. Sering sekali kondisinya, UUS asuransi syariah ketinggalan karena dalam strategi pemasarannya hanya menjadi follower konvensionalnya.

Kedua, sinergi dengan induk jauh dari harapan. Ketakutan utama asuransi konvensional adalah bahwa lahirnya asuransi syariah hanya menyebabkan terjadi jeruk makan jeruk dimana nasabah asuransi syariah ini hanyalah nasabah asuransi konvensional yang pindah ke syariah. Oleh karena itu, sinergi yang diharapkan tidak lahir dan hubungan kerja tidak mendukung paling sering terjadi serta perlu kerja keras untuk memperbaikinya.

Oleh karena itu, penulis meyakini bahwa lahirnya spin off adalah perlu dilakukan secara lebih sistematis, terencana dan pro bisnis agar tidak terjadi keterpaksaan spin off.

Feedback   ↑ x
Close [X]