: WIB    --   
indikator  I  

Stereotipe dalam bisnis

Oleh Jony Eko Yulianto
( Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya )
Stereotipe dalam bisnis

Pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menutup sidang tanwir Muhammadiyah di Ambon, 26 Februari 2017 kembali mengemuka. Pasalnya, tokoh nasional yang kerap disapa JK itu mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia telah sangat berbahaya.

Di Indonesia, lanjut JK, sebagian besar orang kaya adalah warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu atau Kristen, sedangkan orang yang miskin sebagian orang Islam.

Bagaimana kita memahami dan mengukur akurasi pernyataan JK tersebut? Benarkah etnis tertentu terlahir dengan sebuah predestinasi sebagai orang-orang yang kaya, sedangkan etnis yang lain cenderung tidak memiliki keistimewaan semacam itu?

Apakah isu ini memiliki fondasi teoritik? Interpretasi jawaban dari pertanyaan di atas semakin menarik seiring dengan penyuguhan data statistik tentang prevalensi etnis-etnis dan jumlah sumber daya ekonomi yang mereka miliki.

Dalam ilmu psikologi sosial, anggapan-anggapan bahwa suku atau ras tertentu memiliki sifat dan karakteristik tertentu dimasukkan dalam kajian stereotipe. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan stereotipe sebagai konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Dalam riset di bidang psikologi sosial, stereotipe adalah mekanisme penyederhanaan untuk mengendalikan lingkungan yang majemuk dan dinamis untuk dikenali dengan cepat.

Suku bangsa, etnis, dan ras merupakan entitas yang paling sering dilekati dengan stereotipe. Di Indonesia, etnis Batak dikenal sebagai suku yang keras dan berbicara dengan nada tinggi. Hal yang dianggap kontradiktif dengan etnis Jawa yang dipersepsikan sebagai suku yang halus dan lembut.

Etnis Tionghoa adalah etnis yang rajin bekerja, ulet, dan sangat rigid dalam mengelola keuangan. Etnis Minang dianggap memiliki kohesivitas kesukuan tinggi sehingga suka membantu orang-orang yang berasal dari daerah yang sama.

Stereotipe bahkan tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga ke berbagai ras yang ada di dunia. Jika kita membaca literatur-literatur sosial tentang stereotipe, kita akan dengan mudah menemukan orang Arab yang dianggap religius.

Atau, orang Yahudi yang dianggap memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Lalu orang Zimbabwe dan negara Afrika lain yang miskin, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa stereotipe sebenarnya merupakan sebuah fenomena global, bukan hanya lokal semata.

Yang perlu untuk kita perhatikan adalah, secara psikologis, konten stereotipe tidak selalu benar. Stereotipe adalah sebuah mekanisme pertahanan diri atau deference mechanism untuk menyembunyikan keterbatasan diri. Atau stereotipe digunakan untuk membenarkan perasaan kita yang rentan dengan superioritas.

Contoh paling mudah adalah stereotipe terhadap penduduk kulit hitam di Amerika Serikat. Jika kita menelusuri lebih jauh, stereotipe terhadap masyarakat kulit hitam di Amerika ternyata bersumber dari superioritas ras kulit putih pada zaman perbudakan. Situasi itu sendiri terjadi sebelum masa deklarasi hak asasi manusia ditandatangani beberapa ratus tahun silam.

Feedback   ↑ x
Close [X]