kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Strategi KUR 2018: Sosial versus komersial

Kamis, 04 Januari 2018 / 15:04 WIB

Strategi KUR 2018: Sosial versus komersial

Belum lama ini Harian KONTAN memberitakan bahwa Komite Kebijakan Kredit Usaha Rakyat akan melakukan perubahan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR) tahun 2018. Bunga turun dari semula 9% menjadi 7% efektif per tahun. Penurunan bunga KUR ini akan mulai berlaku 1 Januari 2018.  

Selain itu, rapat Komite Kebijakan KUR memutuskan untuk meningkatkan target penyaluran KUR di sektor produksi. Misalnya  sektor pertanian, perikanan, industri pengolahan, konstruksi dan jasa produksi tahun 2018 menjadi  minimum sebesar 50% dari total target penyaluran tahun ini yang sebesar Rp 120 triliun.

UMKM selama ini sulit mendapatkan kredit dari lembaga keuangan. Salah satu pertimbangan lembaga keuangan, sektor produksi memiliki risiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor perdagangan.

Tahun 2018 juga lahir skema KUR Khusus untuk perkebunan rakyat, peternakan rakyat dan perikanan rakyat. KUR Khusus  adalah skema yang diberikan kepada kelompok usaha yang dikelola secara bersama dalam bentuk kluster dengan menggunakan mitra usaha. Sektor usahanya meliputi usaha komoditas perkebunan rakyat, peternakan rakyat dan perikanan rakyat.

Plafon KUR Khusus ditetapkan Rp 25 juta–Rp 500 juta untuk tiap individu anggota kelompok. Komite kebijakan akan menetapkan besaran plafon KUR tahun 2018 bagi setiap penyalur KUR dengan mempertimbangkan rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sampai dengan 30 September 2017, penyaluran KUR telah mencapai Rp 69,7 triliun atau 65,3% dari plafon penyaluran Rp 106,6 triliun. Tingkat kredit macet atau non-performing loan (NPL) sebesar 0,014 %. Total jumlah debitur KUR mencapai sekitar 3,09 juta. Nilai KUR Mikro yang tersalur mencapai Rp 49 triliun atau 71% dari total penyaluran.

Dari beberapa perubahan skema KUR di atas menarik untuk menganalisis beberapa hal yang akan menjadi dampak utama dari perubahan kebijakan tersebut. Terutama, penurunan bunga KUR bagi bank penyalurnya.

Usaha Mikro Kecil (UMK) merupakan tulang punggung utama dalam perekonomian Indonesia. Statistik terbaru Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan beberapa fakta menarik tentang kontribusi UMK. Menurut data itu, saat ini terdapat dari 57,9 juta usaha di Indonesia. Dari jumlah itu, fakta pertama menunjukkan bahwa usaha mikro kecil berjumlah 57,8 juta (99,9%) dan merupakan jumlah unit usaha  terbesar dari total usaha di Indonesia.

Fakta kedua adalah dalam serapan tenaga kerja. Usaha mikro kecil masih dominan menyerap  tenaga kerja. Lebih dari 114 juta atau setara 97% dari seluruh usaha yang ada di Indonesia.

Melihat kontribusi UMK yang signifikan, era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merilis skema KUR untuk menjadi obat dari dua penyakit utama UMK. Yakni, keterbatasan akses kredit dari perbankan, dan keterbatasan kemampuan UMK dalam menyediakan agunan.

Untuk itulah banyak yang bank tertarik memasuki UMK ini menjadi bank penyalur KUR dengan beberapa pertimbangan. Pertama,  profitabilitas. Dibandingkan dengan usaha besar UMK memiliki beberapa ciri perputaran yang lebih tinggi, tingkat efisiensi lebih tinggi sehingga mampu menghasilkan profitabilitas lebih besar.

Kedua, potensi pasar UMK. Data telah menunjukkan besarnya potensi pasar UMK yang harus digarap lebih serius.

Ketiga, diversifikasi risiko. Portofolio bisnis bank yang beragam dan segmen yang tidak saling tergantung merupakan kondisi ideal bagi sebuah bank.

Selain keuntungan bisnis, kredit UMK termasuk KUR, memiliki beberapa hambatan utama dalam penyalurannya. Pertama, tingkat kegagalan tinggi. Sebab, banyak usaha yang dibiayai oleh KUR adalah usaha baru.

Secara umum, menurut Nuridin (2007), dalam periode usaha baru berdiri sampai tiga tahun merupakan periode dengan tingkat kegagalan usaha tinggi. Tingginya data NPL KUR bank penyalur merupakan early warning bahwa bank harus memiliki kebijakan pelayanan usaha baru dengan kriteria ketat untuk menghindari penambahan KUR bermasalah.

Kedua, biaya pengelolaan yang tinggi. Karena memasuki segmen UMK maka bank juga harus mengeluarkan biaya tetap dalam pengelolaan rekening termasuk sumber daya manusia. Untuk memasuki segmen UMK bank harus memiliki sumber daya berkualitas dan kuantitas banyak, serta berdedikasi dalam mengelola rekening UMK. Jika tidak maka dapat diprediksi NPL akan meningkat.



Komentar
TERBARU
MARKET
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×