: WIB    —   
indikator  I  

Supaya tidak menolak menjadi petani

Oleh Ali Mutasowifin
( Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB )
Supaya tidak menolak menjadi petani

Hari Tani Nasional, yang biasa dirayakan setiap 24 September, tahun ini tampaknya masih harus dirayakan dengan keprihatinan lantaran kondisi pertanian di Tanah Air yang masih muram. Belum lama ini, misalnya, seorang petani asal Kecamatan Pundong, Bantul, DIY, diberitakan menggratiskan cabai rawit yang ditanam di sawah miliknya.

Kondisi itu seolah-olah menjawab sindiran Presiden Joko Widodo saat menyampaikan orasi ilmiah di IPB belum lama ini. Saat itu Presiden Jokowi melontarkan keprihatinan karena banyak lulusan IPB bekerja di non pertanian.

Menurut data tracer alumni IPB, memang hanya 13,3% alumni yang terjun di bidang pertanian on farm dan 11,42% alumni di sektor industri pengolahan hasil pertanian. Sedangkan dua kelompok terbesar alumni justru bekerja di industri jasa keuangan (17,85%) dan jasa lainnya (15,85%),

Menurunnya minat lulusan perguruan tinggi pertanian bekerja di bidang pertanian tampaknya merefleksikan kondisi umum sumberdaya pertanian. Sensus Pertanian BPS terakhir  mencatat jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) pada 2013 sebanyak 26,14 juta atau turun 5,10 juta rumah tangga dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya. Artinya, jumlah rumah tangga pertanian rata-rata turun sebesar 1,77% atau sekitar 500.000 rumah tangga per tahun.

Berkurangnya jumlah rumah tangga pertanian itu sebagian karena berkurangnya petani gurem, yakni mereka yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare. Pada 2013, jumlah mereka tersisa 14,25 juta rumah tangga, turun 4,22 juta dibandingkan Sensus 2003 sebanyak 19,02 juta rumah tangga. Penyebabnya lantaran beralih profesi, lahan garapan beralih fungsi atau dijual oleh si pemilik.

Feedback   ↑ x
Close [X]