: WIB    —   
indikator  I  

Tak asal optimistis

Oleh Harris Hadinata
Tak asal optimistis

Beberapa hari menjelang akhir tahun lalu sampai kemarin, linimasa di laman Facebook saya terasa cukup adem. Alih-alih dipenuhi perdebatan dan celaan, banyak kalimat motivasi muncul di wall Facebook saya.

Banyak kenalan saya di media sosial tersebut yang posting kalimat-kalimat penyemangat terkait resolusi di tahun baru serta optimisme menghadapi tahun yang berganti. Posting penyemangat tersebut lebih banyak ketimbang posting perdebatan apakah film Ayat-Ayat Cinta 2 bagus atau tidak.

Di pasar finansial, para pelaku pasar juga tampak optimistis dalam mengakhiri 2017 dan menyambut tahun baru. Buktinya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung cukup tinggi. Indeks saham bahkan sudah sempat menembus 6.400. Memang, sih, kemarin indeks saham kembali merosot ke bawah level 6.300, tepatnya di 6.251,48.

Investor juga masih menyerbu pasar obligasi. Dalam lelang surat utang negara (SUN) kemarin, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 86,21 triliun rupiah. Padahal, pemerintah cuma mematok target penyerapan Rp 17 triliun. Artinya, penawaran yang masuk mencapai lima kali lipat lebih dari target.

Rasanya, melihat prestasi Indonesia di bidang ekonomi belakangan ini, memang tidak aneh kalau pelaku pasar keuangan optimistis terhadap pasar Indonesia. Jangan lupa, akhir tahun lalu, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang Indonesia. Hal ini membuka harapan lembaga pemeringkat utang lainnya akan menyusul menaikkan peringkat utang Indonesia tahun ini.

Selain itu, tahun lalu, untuk pertama kalinya produk domestik bruto (PDB) Indonesia menembus US$ 1 triliun. Jadi, kekuatan ekonomi Indonesia makin besar.

Cuma, di balik berbagai prestasi tersebut, memang masih ada hal-hal yang perlu diwaspadai. Salah satunya, kemampuan pemerintah dalam menjaring penerimaan negara. Penerimaan negara tahun lalu mencapai Rp 1.655,8 triliun, jauh di bawah target Rp 1.736,1 triliun.

Dari situ, penerimaan pajak cuma Rp 1.339,8 triliun. Sementara target penerimaan pajak pemerintah sebesar Rp 1.472,7 triliun. Banyak pengamat menilai penerimaan pajak yang kecil ini akan berpotensi menghambat kenaikan peringkat utang Indonesia ke depan.

Jadi, meski optimistis menatap tahun ini, kita juga harus tetap hati-hati. Masih banyak hal yang perlu dibenahi. Jangan sampai karena terlena kita malah lupa untuk terus memperbaiki diri.                  

Feedback   ↑ x