: WIB    —   
indikator  I  

Tantangan bank syariah

Oleh Paul Sutaryono
( Pengamat Perbankan dan Mantan Asistant Vice President BNI )
Tantangan bank syariah

Apakah ini simbol kebangkitan bank syariah ketika pada 27 September 2017 PT Minna Padi Investama Sekuritas ingin membeli 51% saham PT Bank Muamalat Indonesia? Bagaimana tantangan bank syariah ke depan?

Sejauh mana kinerja bank syariah? Penulis mengambil kinerja bank umum kegiatan usaha atau bank buku 3 (dengan modal inti Rp 5 triliun hingga kurang dari Rp 30 triliun) sebagai ilustrasi. Mengapa? Karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak menyajikan laporan kinerja bank umum syariah sebagaimana bank konvensional.

Selama ini, OJK hanya menyajikan laporan kinerja bank umum syariah buku 1 (modal inti kurang dari Rp 1 triliun), bank BUKU II (modal inti Rp 1 triliun hingga kurang dari Rp 5 triliun) dan bank buku 3. Padahal data bank umum syariah itu penting untuk mengetahui rata-rata industri perbankan syariah. Hingga kini belum ada bank syariah BUKU IV (modal inti di atas Rp 30 triliun).

Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang terbit pada 19 September 2017 menunjukkan bahwa pembiayaan bank umum syariah buku 3 mampu tumbuh cukup subur 10,80% dari Rp 52,05 triliun per Juli 2016 menjadi Rp 57,67 triliun per Juli 2017. Dana pihak ketiga (DPK) pun tumbuh 11,86% dari Rp 65,84 triliun menjadi Rp 73,65 triliun pada periode yang sama.

Pertumbuhan demikian telah mendorong financing to deposit ratio (FDR) naik sedikit dari 79,05% menjadi 79,31%. FDR itu jauh lebih rendah daripada loan to deposit ratio (LDR) bank umum konvensional buku 3 sebesar 89,20% pada periode yang sama. Artinya, kemampuan mengemban fungsinya sebagai intermediasi keuangan kian baik karena masuk FDR ideal 78%-92%.

Laba perbankan syariah hanya naik tipis 1,56% dari Rp 450 miliar menjadi Rp 457 miliar. Akibat logisnya, imbal hasil dari aset (return on assets/ROA) turun dari 0,63% menjadi 0,56%, jauh di bawah ambang batas 1,5%. Dengan bahasa lebih bening, kualitas aset menipis. Coba bandingkan ROA bank umum konvensional BUKU III yang mencapai 2,05%.

Melihat kondisi tersebut, tantangan apa saja yang perbankan syariah hadapi? Bagaimana pula cara mengatasinya?

Pertama, mendongkrak tingkat efisiensi. Tingkat efisiensi tersurat jelas pada rasio BOPO (rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional) yang menurun (membaik) dari 97,20% menjadi 95,63%. Meskipun begitu, rasio itu jauh di atas ambang batas 70-80% yang berarti perbankan syariah belum efisien.

Untuk itu, kini saatnya bagi perbankan syariah untuk menaikkan tingkat efisiensi dengan memanfaatkan teknologi. Itu wajib dilaksanakan jika tak mau terlindas disrupsi teknologi (disruptive technology). Ini merupakan sesuatu yang menggeser teknologi yang telah mapan dan menggoyang industri atau produk yang kemudian melahirkan industri baru (Prof Clayton M. Christensen, 1997).

Coba tengok perkembangan perusahaan teknologi finansial (tekfin) yang melaju bagai panah terlepas dari busurnya. Kelak, perusahaan itu bakal menjadi pesaing berat bagi perbankan baik konvensional maupun syariah.

Feedback   ↑ x
Close [X]