: WIB    --   
indikator  I  

Tantangan pendalaman pasar modal

Oleh Abdul Manap Pulungan
( Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) )
Tantangan pendalaman pasar modal

Dalam kunjungan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini, ada harapan dari Kepala Negara agar perusahaan multinasional yang menggarap kekayaan alam Indonesia, dapat go public di dalam negeri. Perusahaan yang dimaksud adalah mereka yang sudah memperoleh separuh pendapatan dan menempatkan asetnya di Indonesia. Harapan tersebut cukup beralasan, karena pelaku bisnis tersebut sudah menikmati keuntungan dan manfaat lain dari sumberdaya alam nasional.

Sektor pertambangan, properti, dan perkebunan tercatat sebagai sektor yang relatif banyak mencatatkan sahamnya di luar negeri. Mereka tersebar di Hong Kong, Singapura, Malaysia, China hingga Australia. Ada sekitar 52 perusahaan yang menjadi target repatriasi.

Jika korporasi tersebut melantai di BEI, maka akan ada tambahan likuiditas paling sedikit Rp 400 triliun. Pada 2016, kapitalisasi pasar dari sekitar 540 emiten hanya mencapai Rp 5.700 triliun saja. Sebagian besar ditopang oleh emiten sektor keuangan dan industri barang konsumsi.

Dalam catatan Ernst & Young (EY) jumlah perusahaan Indonesia yang IPO sepanjang Semester I-2017 mencapai 14 perusahaan, lebih tinggi dibandingkan Thailand (11); Singapura (8); Malaysia (8); dan Filipina (4). Namun, dari segi jumlah dana yang dihimpun, Indonesia kalah jauh dari negara-negara lain. Indonesia hanya mampu menghimpun US$ 0,2 miliar. Sedangkan  Thailand dan Filipina masing-masing sanggup meraup US$ 1 miliar dan US$ 0,5 miliar. Bahkan, Malaysia mampu mendulang hingga US$ 2,1 miliar dari IPO 8 perusahaan.

Kurun waktu satu dekade terakhir, jumlah perusahaan yang initial public offering (IPO) rata-rata di bawah 25 perusahaan per tahun. Sepanjang periode tersebut, penghimpunan dana dari pasar modal sekitar US$16 miliar.

Pasar modal domestik rupanya masih dangkal, sehingga memberikan kebimbangan bagi perusahaan yang akan melantai di BEI, apakah bisa mencapai target dana yang diharapkan.  Kasus yang relatif mirip tergambar pada IPO Alibaba yang merupakan perusahaan asal China. Perusahaan tersebut melantai di bursa New York karena memiliki pasar modal yang lebih dalam.

Namun demikian, perbaikan peringkat surat utang jangka panjang Indonesia oleh Standard and Poor’s (S&P) menjadi investment grade diharapkan berperan membantu kinerja pasar modal di Indonesia. Sehingga, upaya merepatriasi emiten lokal bakal mendapat sambutan.

Sebab, rasio kapitalisasi pasar modal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia masih 45%. Atau cuma lebih tinggi dari  Vietnam sebesar 32%. Namun, Filipina dan Korea Selatan memiliki rasio kapitalisasi pasar modal di atas 50% terhadap PDB. Sedangkan Jepang, Thailand, Malaysia, dan Singapura sudah di atas 100% terhadap PDB.

Feedback   ↑ x
Close [X]