: WIB    —   
indikator  I  

Tax evader

Oleh Titis Nurdiana
Tax evader

Aparat pajak terus memutar otak. Potensi terjadi shortfall atas penerimaan pajak tahun ini mulai tampak. Realisasi penerimaan akhir bulan Mei menyalakan potensi terjadinya shortfall itu. Hingga akhir Mei 2017 realisasi penerimaan pajak baru Rp 398,7 triliun, belum separuh dari target APBN 2017.

Total kopral, penerimaan perpajakan (pajak dan bea cukai) pada akhir Mei mencapai Rp 463,5 triliun atau 30,9% dari target APBN 2017 yang tercatat sebesar Rp 1.498,9 triliun. Merujuk realisasi pendapatan negara dari penerimaan perpajakan tahun 2016 lalu, hanya Rp 1.283,6 triliun. Angka ini setara 83,4% dari target APBN-P 2016 yang mencapai Rp 1.539,2 triliun. Jumlah ini sudah termasuk sumbangan dari program amnesti pajak yang masuk ke penerimaan negara sebesar Rp 107 triliun.

Masalahnya, kontribusi amnesti pajak dalam penerimaan anggaran 2017 tak lagi bisa diharapkan. Jika merujuk data Kementerian Keuangan saat berakhirnya program amnesti pajak 31 Maret, total penerimaan hanya Rp 147 triliun, dihitung sejak program amnesti dimulai. Jika akhir 2016, kontribusi amnesti pajak Rp 107 triliun, tahun ini, kontribusi program amnesti hanya Rp 40 triliun.

Sebagai sumber terbesar penerimaan negara, aparat pajak memang tengah memburu target. Dengan rasio rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya 10,3%, rasio terendah dunia yang rata-rata sudah mencapai 15%, potensi mengejar pajak dari kepatuhan masyarakat membayar pajak memang besar.

Feedback   ↑ x
Close [X]