: WIB    --   
indikator  I  

Tiap tanah punya nama

Oleh Barly Haliem Noe
Tiap tanah punya nama

Reforma agraria (land reform) menjadi salah satu poin menarik yang ditawarkan Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Program yang identik dengan redistribusi lahan itu masuk dalam agenda prioritas era sekarang.

Akhir April 2017 lalu, land reform mulai digulirkan Jokowi. Program ini dijanjikan memberi akses lahan 9 juta keluarga miskin dan melibatkan 12,7 juta hektare lahan negara.

Merujuk pada pengalaman sejumlah negara, kesuksesan land reforma tergantung pada sejumlah hal. Misalnya, tujuan dan pilihan angle yang ingin dicapai pemerintah, hingga dukungan permodalan.

Jepang, Korea Selatan, Taiwan menghelat land reform untuk tujuan industrialisasi. Orientasi land reform fokus pada pengembangan daya dukung industri. Misalnya sebagai basis produksi komponen maupun pusat pemasok produk kebutuhan pabrikan.

Lain cerita Thailand dan Malaysia. Keduanya mengusung land reform untuk tujuan memperkuat pangan dan pertanian. Tak heran, kluster lahan land refor disulap sebagai sentra pertanian dan perkebunan.

Feedback   ↑ x
Close [X]