: WIB    —   
indikator  I  

Trump, Paris dan PDB

Oleh Geraldo Sihotang
( Research Assistant at Macroeconomic Dashboard Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada )
Trump, Paris dan PDB

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump kembali merealisasikan janji kampanyenya, pekan lalu. Presiden AS ke-45 itu menarik negaranya keluar dari perjanjian Paris.

Catatan saja, Paris Agreement merupakan perjanjian multilateral, yang telah diratifikasi 195 negara. Kesepakatan itu mengatur usaha membatasi produksi gas karbon global.

Saat menyatakan negaranya keluar dari Perjanjian Paris, Trump melontarkan alasan bahwa perjanjian tersebut meletakkan restriksi yang besar terhadap kemajuan perekonomian AS. Apakah benar argumen yang diajukan Trump?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat definisi Hubbard cs mengenai produk domestik bruto (PDB) potensial.  PDB potensial adalah total output yang dapat atau mungkin dihasilkan sebuah perekonomian jika seluruh faktor produksi, pekerja/labor dan modal/kapital, yang tersedia diutilisasi secara maksimal.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan mengenai konsep ini. Pertama, besaran PDB potensial hanya dapat diestimasi, atau bukan jumlah aktualnya, sehingga tidak ada besaran pasti tentang nilai dari PDB potensial. Tulisan ini mengasumsikan bahwa PDB potensial AS sama dengan PDB aktualnya per PDB saat ini.

Kedua, perlu diperhatikan bahwa kapital tidak hanya terbatas pada modal finansial saja. Namun kapital juga mencakup mesin, perlengkapan dan peralatan, tanah, serta sumber daya alam.

Lalu apa hubungan antara PDB potensial, lingkungan hidup, serta argumen yang diajukan oleh Trump? Perjanjian Paris dan usaha konservasi lingkungan lainnya memiliki implikasi berupa pembatasan pemanfaatan sumber daya alam tertentu. Ambil contoh pembatasan penggunaan batubara sebagai komoditas energi di AS.

Pembatasan ini berimplikasi pada penurunan PDB potensial yang dapat dicapai oleh AS, akibat adanya faktor produksi tertentu yang tidak dapat digunakan. Sebagai contoh, sebelum adanya perjanjian Paris perusahaan-perusahaan energi di AS dapat menggunakan batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Namun setelah Perjanjian Paris berlaku, penggunaan batu bara sangat dibatasi. Bahkan, ada wacana untuk menghapuskan batubara sebagai bahan bakar yang bisa digunakan pembangkit listrik di AS.

Apabila kita berasumsi bahwa PDB AS saat ini sama dengan PDB potensialnya, maka usaha untuk melindungi lingkungan hidup telah mengerdilkan perekonomian AS. Inilah yang menjadi salah satu alasan bagi Trump untuk membawa Negeri Paman Sam hengkang dari Perjanjian Paris.

Penarikan diri AS dari perjanjian Paris membuka pintu yang terkunci akibat restriksi lingkungan dan mengembalikan potensi perekonomian AS. Perusahaan-perusahaan energi, khususnya batubara, dapat kembali tancap gas.

Ekspansi perusahaan-perusahaan ini sudah barang tentu akan meningkatkan lapangan pekerjaan bagi warga AS. Bahkan bukan hanya AS saja yang dapat merasakan manfaatnya, negara-negara berkembang juga turut merasakannya. Khususnya negara penghasil bahan bakar fosil, seperti minyak bumi.  

Investasi yang dilakukan oleh perusahaan energi fosil akan meningkatkan permintaan terhadap bahan bakar fosil. Di tahap berikutnya, harga akan terdorong untuk kembali naik.

Feedback   ↑ x
Close [X]