: WIB    —   
indikator  I  

Valuasi saham tinggi

Oleh Teguh Hidayat
( Pengamat Pasar Modal )
Valuasi saham tinggi

Terjadinya krisis moneter pada 1998 dan krisis global di 2008 silam membuat pelaku pasar percaya akan terjadinya siklus krisis di 10 tahunan. Mereka percaya di tahun 2018 nanti krisis kembali terjadi. Benarkah demikian?

Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan hal itu. Layaknya negara lain di dunia, Indonesia pun turut mengalami pasang surut ekonomi. Meski begitu, jangka waktu antara satu krisis dengan krisis berikutnya tidak tentu. Apalagi jika yang dimaksud krisis adalah kejatuhan bursa saham.

Jika kejatuhan indeks saham dijadikan acuan krisis, maka 2015 Indonesia dilanda krisis. Kala itu, IHSG turun 12%. Di sisi lain, tanda-tanda krisis tahun depan seharusnya sudah tampak tahun ini. Jika krisis ekonomi atau kejatuhan bursa saham diibaratkan seperti hujan, pasti sebelumnya langit sudah gelap dan mendung. Tapi saat ini saya lihat mendung belum tiba.

Sejak koreksi tajam di Agustus-September 2015 hingga sekarang, IHSG belum terkoreksi lagi. Hal ini pun tak hanya di Indonesia. Indeks saham di AS, seperti Dow Jones, Nasdaq dan S&P, selama dua tahun terakhir terus naik tanpa koreksi berarti, terutama didorong kenaikan saham berbasis teknologi seperti Apple, Amazon dan Facebook.

Selain bubble, krisis biasanya diawali oleh kelewat besarnya nilai utang perusahaan swasta dan pemerintah alias overleveraged. Meski kini perusahaan swasta dan BUMN gencar mencari dana di pasar modal, rata-rata DER mereka hanya 1 kali. Capital adequacy ratio (CAR) bank besar seperti BRI, Bank Mandiri, BCA dan BNI masih di kisaran 19%-20%. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) pemerintah relatif aman di 27,9%.

Walau saya ragu pasar saham Indonesia sudah mencapai titik bubble atau belum, valuasi saham di BEI tak bisa disebut murah juga. Valuasi saham big caps kini sudah sekitar 3 kali–4 kali berkat kenaikan IHSG.

Di sisi lain, saya masih yakin IHSG pada tahun depan bisa tumbuh, meski terbatas di kisaran 10%. Namun, hal itu tergantung dinamika di 2018.         

Reporter : Riska Rahman

Feedback   ↑ x
Close [X]