: WIB    —   
indikator  I  

Waspadai kebijakan berikutnya

Oleh Eric Sugandhi
( Ekonom SKHA Institute )
Waspadai kebijakan berikutnya

Janet Yellen menyatakan bahwa The Fed bersedia untuk menjalankan kebijakan moneter yang akomodatif.

Artinya, tidak secara agresif mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga The Fed. Selain itu, The Fed bisa mentoleransi inflasi sedikit di atas target inflasi 2% untuk sementara waktu.

Dengan pernyataan Yellen seperti ini, saya pikir mungkin kenaikan suku bunga The Fed tidak agresif tahun ini. Kalaupun naik, hanya naik 25 bps dan kemungkinan di triwulan keempat 2017.

Tak perlu khawatir, ekonomi kita cukup kuat menghadapi arus modal keluar atau capital outflows karena cadangan devisa Bank Indonesia (BI) cukup untuk pertahankan rupiah. Selain itu, pernyataan Yellen menenangkan pasar finansial global terhadap risiko capital outflow secara masif dengan tiba-tiba.

Goncangan pasar finansial terhadap kenaikan suku bunga The Fed bergantung pada apakah pelaku pasar sudah mengantisipasi dan price in kenaikan bunga The Fed berikutnya. Kalau kenaikan ini moderat dan sesuai ekspektasi, goncangannya relatif terbatas atau tidak ada, seperti hari ini.

Namun, kalau ternyata bunga The Fed naik secara agresif dan tidak sesuai pernyataan Yellen dan ekspektasi pelaku pasar, pasar bisa bergejolak. Ke depan, saya berharap Yellen dan The Fed akan menepati pernyataan soal kenaikan suku bunga yang moderat ini.

Kalau sesuai ekspektasi, dampaknya terbatas dan jangka pendek, serta lebih mempengaruhi pasar finansial ketimbang sektor riil. Sedangkan kalau tidak sesuai ekspektasi, selama rupiah tidak tertekan lama, maka dampak ke sektor riil terbatas dan bisa diatasi.

Yang masalah kalau tidak sesuai ekspektasi dan akhirnya menekan rupiah dalam waktu lama. Hal tersebut bisa mendorong inflasi dan tekan pertumbuhan ekonomi. Tetapi, saya lihat skenario ini kemungkinannya kecil untuk tahun ini.

Kenaikan bunga The Fed pasti akan menaikkan ongkos utang luar negeri dalam bentuk valas dollar AS sehingga harus dilihat kebutuhan dollar AS.

Reporter : Adinda Ade Mustami

Feedback   ↑ x
Close [X]