kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gapmmi: Kami akan evaluasi harga setelah lebaran


Senin, 02 Juli 2018 / 16:04 WIB

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gapmmi: Kami akan evaluasi harga setelah lebaran
ILUSTRASI.

Memang, nilai tukar rupiah sudah kembali ke bawah Rp 14.000 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kurs rupiah, Kamis (31/5), berada di posisi Rp 13.951, setelah selama dua pekan di kisaran Rp 14.000 per dollar AS.

Tapi, tetap terbuka mata uang garuda kembali melemah ke level Rp 14.000 per dollar AS. Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak pelemahan tajam rupiah.

Pengusaha makanan dan minuman pun putar otak untuk menekan efek nilai tukar rupiah yang anjlok. Mereka menyiasatinya dengan berbagai cara. Apa saja yang sudah dan akan pelaku usaha lakukan?

Wartawan Tabloid KONTAN Lamgiat Siringoringo mewawancarai Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, Rabu (30/5). Berikut nukilannya:

KONTAN: Melihat rupiah yang melemah tajam hingga menembus Rp 14.000, apa yang pelaku usaha makanan dan minuman lakukan?
ADHI:
  Dengan dollar AS yang sekarang makin tinggi dan kami masih tergantung dengan bahan baku impor, ada beberapa hal yang bisa kami lakukan.

Pertama, melakukan efisiensi, ini adalah salah satu jalan keluar. Tapi, ini tidak usah diajarkan, pengusaha pasti melakukan efisiensi. Kedua, mencari alternatif bahan baku.

Namun sayang, ini tidak bisa jangka pendek. Ketiga, dengan memikirkan daya beli masyarakat yang masih belum bagus, maka kami bisa mengurangi size (ukuran) produk.

Contoh, awalnya satu produk ukuran 200 gram, maka dikurangi menjadi 180 gram. Yang penting, harganya tetap. Tetapi, cara inipun harus ada izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Keempat, ini upaya terakhir, yakni menaikkan harga jual.

KONTAN: Untuk efisiensi, langkah apa saja yang bisa pelaku usaha lakukan?
ADHI:
Salah satunya: otomatisasi, karena upah pekerja naik terus tiap tahun padahal margin turun terus. Lalu, ada keluhan dari ritel juga, kalau biaya sewa gerai naik terus.

Akibatnya, kan, menekan ke pemasok dan berdampak juga ke industri. Kami harus efisien, memotong mata rantai logistik, bisa tidak melalui lagi distributor. Termasuk juga efisiensi energi, mengganti yang lebih murah.

KONTAN: Apakah bisa mengarah ke PHK massal?
ADHI:
Untuk sementara tidak ada laporan dari anggota yang mengarah ke sana. Tetapi, yang banyak saya dengar, memang margin itu diturunkan.

KONTAN: Berapa potensi besarannya kalau sampai harus mengerek harga produk?
ADHI:
Karena pelemahan rupiah hingga di atas Rp 14.000 per dollar AS, maka pengaruh ke kenaikan harga pokok penjualan sekitar 3% hingga 7%.

Tapi, untuk produk makanan dan minuman, kenaikan harga di atas 5% sangat terasa sekali bagi konsumen. Apalagi, saat ini menjelang Lebaran.

Makanya, mungkin kami tidak akan menaikkan harga. Kami akan evaluasi kenaikan harga setelah Lebaran. Dengan harapan, dollar AS tidak terus naik.

KONTAN: Jika terpaksa menaikkan harga, bukankah penjualan bisa turun?
ADHI:
Pasti akan terasa. Tapi biasanya, hanya dua sampai tiga bulan saja. Setelah itu akan kembali normal lagi.


Reporter: Lamgiat Siringoringo
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0459 || diagnostic_web = 0.2776

Close [X]
×