kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Ambisi Mandiri Energi

oleh Ardian Taufik Gesuri - Pemimpin Redaksi


Kamis, 30 Juli 2020 / 10:21 WIB
Ambisi Mandiri Energi
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Syukurlah, muncul juga kabar gembira di tengah tekanan pandemi yang mencekam selama sekian bulan terakhir ini. Di saat aktivitas serba-terbatas untuk fokus mencegah penyebaran Covid-19, PT Pertamina (Persero) merilis keberhasilannya membuat D100 alias bahan bakar nabati 100%.

Bahan bakar diesel dari minyak kelapa sawit (CPO) ini sukses diuji performa (road test) sejauh 200 km, pertengahan Juli lalu. Hasilnya diklaim lebih unggul ketimbang BBM fosil. Selain lebih ramah lingkungan, D-100 juga punya angka cetane lebih tinggi, kadar sulfur lebih rendah, serta emisi gas buang lebih baik.

Adalah kolaborasi Pertamina Research & Technology Center (RTC) dan ITB yang merealisasikan D100 ini di kilang Dumai, Riau. Singkatnya D100 ini merupakan hasil penyulingan RBDPO CPO yang sudah diproses lebih lanjut dengan Katalis Merah Putih buatan ahli ITB. Kini produksi baru 1.000 barel per hari. Adapun kilang Plaju juga membangun unit green diesel dengan kapasitas 20.000 barel per hari.

Walau produksi masih kecil, tentu ini merupakan satu tahap pencapaian penting untuk menuju swasembada energi; terutama dengan ketersediaan energi hijau (green energy). Presiden Jokowi sendiri menargetkan Indonesia bisa menghasilkan B100% agar bisa mengurangi impor minyak dan mengoptimalkan industri kelapa sawit. Satu langkah strategis juga untuk membendung kuatnya perang dagang, terutama dari negera-negara maju, yang menyerang produk turunan sawit.

Saat ini, penerapan biodiesel sudah mencapai B30, yakni 30% fatty acid methyl ester (FAME) dan 70% solar. Nah, dengan adanya D100, lalu dikembangkan pula bensin G100, etanol E100, avtur J100, maka produksi CPO yang mencapai 46 juta metrik ton setahun itu bisa banyak diserap untuk energi hijau.

Memang, satu persoalan yang mengganjal dari energi hijau ini adalah tingginya biaya produksi. Sehingga, harga keekonomiannya masih kalah bersaing dengan bahan bakar fosil. Begitu pula dengan D100 ini, harga CPO masih tinggi, belum lagi harga katalisnya. Apalagi untuk pasokannya harus bersaing dengan kebutuhan baku produk konsumsi pangan maupun non-pangan.

Tapi bila memang bertekad swasembada energi, pemerintah harus siap memberi banyak insentif dan subsidi agar harga B100 bisa bersaing. Ketimbang selama ini, pemerintah banyak menghabiskan devisa untuk impor minyak mentah, BBM, dan LPG; tambah pula subsidi energi di atas seratus triliun rupiah.

Penulis : Ardian Taufik Gesuri

Pemimpin Redaksi



TERBARU

[X]
×