kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   0,00   0.00%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Arogansi Amerika dan Gertak Sambal China

oleh Hary Herdiyanto - CEO PT Surya Fajar Capital Tbk


Senin, 29 Juni 2020 / 14:13 WIB
Arogansi Amerika dan Gertak Sambal China
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Belakangan ini berita kemungkinan China menjual obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US treasury bond) yang dimilikinya mencuat. Ini sebagai bentuk balasan atas kebijakan diskriminatif Amerika Serikat terkait dengan rencana investigasi terhadap perusahaan China yang melantai di Bursa Efek Amerika.

Perang dagang antara dua negara raksasa tersebut sebenarnya sudah memanas dalam beberapa tahun terakhir. Terutama sejak era Pemerintahan Donald Trump dimulai, yang menerapkan kebijakan proteksionisme.

Trump mungkin tidak salah. Dia adalah pebisnis ulung. Sebagai pebisnis, salah satu kunci perusahaan dapat bertahan dengan menguasai pasar, menekan pesaing dan membuat dinding tinggi agar tidak ada pesaing baru yang masuk ke dalam pasar tersebut.

Namun Trump mungkin lupa teori bisnis korporasi tidak sama dengan fundamental teori ekonomi internasional. Teori bisnis korporasi mengatakan perusahaan harus bisa memenangkan persaingan, walaupun harus menerapkan cara merusak seperti predatory pricing.

Sebaliknya, fundamental dari ekonomi internasional adalah keyakinan bahwa negara hanya dapat menjadi besar jika mereka bekerjasama dan membuka diri dengan negara lainnya, bahkan memberi bantuan kepada negara tetangga. Baik melalui bantuan kesejahteraan, pendidikan, transfer teknologi, dan lain-lain.

Negara yang dikelilingi oleh "ring of friends" akan jauh lebih aman dan produktif dibandingkan yang dikelilingi oleh "ring of fire". Negara-negara tetangga yang miskin dan rawan konflik akan menjadi ancaman stabilitas bagi negara tetangganya, sebaliknya negara yang maju akan menjadi "pasar baru" bagi perusahaan-perusahaan untuk melakukan ekspansi, baik sebagai tujuan pasar maupun sebagai basis produksi baru.

China, yang di sisi lain terkesan banyak menahan diri terhadap serangan Amerika, juga tidak kalah gencar melancarkan balasan. Mulai dari penerapan tarif impor balasan atas produk-produk Amerika sampai saling tuntut di WTO.

Terakhir, rumor mengenai kemungkinan Beijing menjual US treasury bond sebagai balasan atas tekanan terus-menerus dari Washington cukup menyita perhatian. Sementara tidak terhitung jumlah bahasan mengenai "Washington-Beijing War", saya lebih tertarik untuk membahas dampak dan kemungkinan realisasi gertakan tersebut. Apakah dampaknya jika China melakukan penjualan teasury bond atau securities yang dimilikinya secara masif?

Ring of friends

Sebagai informasi, saat ini China memegang sekitar US$1,1 triliun dari total US$ 6,4 triliun surat utang Amerika yang dipegang oleh asing. Sebagian besar sisanya masih dipegang internal lembaga negara mereka sendiri, atau dikenal dengan Intragovernmental Debt atau Intragovernmental Holdings dan selebihnya dipegang oleh berbagai institusi swasta lainnya.

China dan Jepang secara konsisten bergantian menjadi negara teratas pemilik US treasury securities dengan besaran yang kurang lebih setara, yakni sekitar US$ 1 triliun. Total utang negeri Paman Sam sendiri diperkirakan sekitar US$ 26 triliun per Juni 2020.

Sesuai hukum ekonomi, penjualan secara masif US treasury oleh Beijing secara teori akan membuat harga aset tersebut terpuruk (oversupply).

Para trader yang terbiasa bermain di surat berharga maupun komoditas tentu menyadari, saat ada pihak besar sedang membuang barang, lebih baik menunggu dan tidak terburu-buru mengambil posisi berlawanan (never catch a falling knife). Karena semua menunggu, permintaan beli menjadi terbatas dan seperti yang telah kita saksikan sebelumnya pada harga minyak, karena tidak adanya pembeli, minyak yang umumnya merupakan komoditas berharga jadi tidak bernilai.

Penurunan nilai US tresuries akibat massive sell-off akan mengakibatkan yield investasi di aset tersebut menjadi tinggi, tingginya bond yield dalam instrumen safe haven ini berpotensi merusak kondisi ekonomi Amerika apabila tidak ada intervensi. Mengapa demikian?

Salah satunya adalah tingginya tingkat keuntungan pada aset bebas risiko akan memicu investor di pasar saham untuk memindahkan portofolionya. Pendek kata, mengapa berenang di kolam berisiko jika bisa mendapatkan hasil tinggi pada risk free assetShifting besar-besaran akan membuat pasar saham kolaps dan pada gilirannya akan membuat banyak perusahaan yang terhubung pada pasar modal terdampak negatif.

Kedua, akibat tingginya bond yield, perusahaan akan kesulitan untuk mencari pendanaan baru melalui instrumen utang guna membiayai kegiatan dan ekspansi usahanya. Kalaupun ada, tentunya dengan bunga yang sangat tinggi. Hal ini dapat menghambat bahkan merusak roda perekonomian suatu negara, karena produksi menjadi terhambat.

Melihat besarnya dampak tersebut, tidak heran banyak yang mengatakan bahwa China saat ini berada di atas angin dalam Washington-Beijing War yang sedang berlangsung. Benarkah demikian? Bisa saja demikian, namun sulit dipraktikkan.

Sebab, pertama, akan sulit mencari pembeli yang mampu menampung aset sebesar itu, sehingga penjualan rugi merupakan opsi yang paling memungkinkan. Dengan nilai US$ 1,1 triliun, setiap 1% kerugian setara dengan US$ 11 miliar. Bayangkan, berapa banyak kerugian yang ditanggung jika harus menjual aset jauh dibawah nilai pembeliannya.

Kedua, saat harga terkoreksi sangat dalam, sangat mungkin perusahaan investasi besar bahkan di Amerika sendiri, akan mengambil posisi beli. Apabila Amerika membeli balik utangnya pada harga diskon, tentunya mereka yang sangat diuntungkan karena seakan-akan memperoleh haircut atas pokok hutangnya.

Ketiga, kalaupun Beijing berhasil melakukannya, yang dapat dipastikan melalui opsi jual rugi, kemanakah dana sebesar itu akan ditempatkan? US treasuries dan emas merupakan safe haven saat ini. Namun harga emas yang sudah berada di titik tertinggi dalam 6 tahun-7 tahun terakhir menjadi pertanyaan, apakah bijak menambah eksposur di sana saat ini? Relokasi aset jelas menjadi pekerjaan rumah bagi Beijing.

Terakhir, posisi Beijing sebagai negara pemegang surat utang terbanyak mungkin saja menjadi pertimbangan Amerika untuk "menahan diri" selama ini. Tanpa itu, posisi Beijing mungkin akan jauh lebih lemah, sehingga sanksi atau kebijakan diskriminatif lain yang lebih keras mungkin saja diterapkan.

Melihat beberapa argumen di atas, opsi dumping US treasuries oleh China mungkin akan hanya sebatas wacana atau gertak sambal, karena opsi tersebut kemungkinan akan melukai mereka sama atau bahkan lebih besar dari dampak yang ditimbulkan untuk Amerika sendiri. Namun, penjualan secara perlahan dan bertahap mungkin saja dilakukan.

Menarik untuk melihat perkembangan Washington-Beijing War selanjutnya. Namun demi perekonomian dunia yang lebih baik, kita berharap hubungan mereka dapat membaik, sehingga dapat berimbas positif pada negara-negara dunia lainnya.

Penulis : Hary Herdiyanto

CEO PT Surya Fajar Capital Tbk



TERBARU

[X]
×