kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Asah Lagi Naluri Lama

oleh Hasbi Maulana - Managing Editor


Jumat, 03 Januari 2020 / 11:18 WIB
Asah Lagi Naluri Lama
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Jakarta banjir lagi. Meski banjir kali ini terjadi di tahun baru, tapi nyaris tidak ada yang benar-benar baru. Titik banjir, pemicu banjir, tanggul jebol, curah hujan, problem evakuasi, dan sebagainya, sepintas masih itu-itu saja. Benar beberapa orang mengabarkan bahwa baru kali ini ini rumahnya kebanjiran semenjak tinggal di sana selama belasan atau puluhan tahun. Namun, kondisi anomali semacam itu sepertinya tak terlalu signifikan dibanding keterpaparan banjir secara keseluruhan. Kalau pun ada yang baru, paling-paling banjir kali ini diwarnai semangat menggebu sebagian warganet untuk menyalahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sebagian yang lain juga tak kalah bergairah menyalahkan Presiden Joko Widodo. Dua sikap berseberangan yang sama sekali tak bermanfaat untuk mengurangi penderitaan dan kerugian para korban banjir. Hanya mereka yang rumahnya pernah kebanjiran bisa merasakan betapa menjengkelkan menjadi korban banjir. Tubuh mungkin baik-baik saja, tapi tersandera di lokasi, mati listrik, sulit air bersih, susah buang hajat besar maupun kecil, makanan terbatas, stok pakaian basah, rumah kotor berlumpur, bayangan capek membersihkan, besarnya ongkos membetulkan rumah, mengganti perkakas yang rusak, bahkan ada yang mobilnya hanyut segala. Belum lagi kalau ada dokumen penting yang hanyut atau basah terendam air lumpur, dampak banjir bakal terasa sampai berhari-hari atau berminggu-minggu. Mengingat akibat banjir yang menjengkelkan bin meletihkan itu, masyarakat sebaiknya menerima kenyataan bahwa Jakarta memang rawan kebanjiran. Jangankan curah hujan 377 mm seperti yang baru saja terjadi, curah hujan 100 mm-150 mm saja pernah menyebabkan Jakarta banjir (2013 dan 2016). Banjir besar pada tahun 1996 terpicu curah hujan 216 mm. Banjir gede 2007 cuma "diantar" curah hujan 168 mm. Jadi, ketimbang ikut-ikutan "perang mazhab" normalisasi versus naturalisasi kali, sebaiknya warga ibukota mengasah lagi naluri dalam mengantisipasi dan menghadapi banjir. Sudahlah, hadapi saja fakta bahwa hingga kini pemerintah tak mampu menangkal banjir Jakarta. Di lain pihak, pemerintah silakan terus berupaya mempercepat, membelokkan, membendung, menguapkan, bahkan kalau perlu mengirim air hujan ke Planet Mars, tapi jangan sepelekan mitigasi banjir Jakarta. Bantu warga mengantisipasi kedatangan banjir dan meminimalisir kerugian. Itu sangat penting.

Penulis : Hasbi Maulana

Managing Editor




TERBARU

Close [X]
×