kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Beberapa solusi alternatif bagi Jiwasraya


Rabu, 14 November 2018 / 15:58 WIB

Beberapa solusi alternatif bagi Jiwasraya

Pengucuran PMN

Oleh karena itu, untuk mampu menanggung semua potensi risiko pemegang polis, perusahaan asuransi wajib melakukan investasi seperti dalam bentuk deposito dan berbagai surat berharga. Di samping itu, perusahaan asuransi juga wajib melakukan reasuransi semua potensi risiko ke perusahaan reasuransi.

Namun terkadang tidak semua potensi risiko direasuransikan ke perusahaan reasuransi. Artinya, perusahaan asuransi menanggung sendiri sebagian potensi risiko karena upaya reasuransi juga membutuhkan biaya tidak kecil. Ketika mengalami masalah keuangan, maka tidak mengherankan perusahaan asuransi menjadi kurang mampu memenuhi kewajiban kepada pemegang polis. Nah, barangkali hal itu yang sedang terjadi pada Asuransi Jiwasraya.

Kedua, sudah sepatutnya pemerintah mengucurkan penanaman modal negara (PMN) kepada Asuransi Jiwasraya. Jangan lupa bahwa Asuransi Jiwasraya merupakan satu-satunya BUMN di sektor perasuransian sehingga perlu diselamatkan segera.

Ketiga, pemerintah masih memiliki solusi alternatif lain berupa obligasi rekapitalisasi (bond recap) untuk menambal modal Asuransi Jiwasraya sebagaimana yang telah diberikan kepada bank umum pada 1999. Dengan obligasi rekapitalisasi itu, Asuransi Jiwasraya akan memperoleh bunga kupon yang merupakan pendapatan.

Waktu itu, pemerintah harus mengeluarkan biaya sangat tinggi untuk menyelamatkan perbankan nasional. Awalnya, pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi kepada 28 bank umum dengan Keputusan Bersama Menteri Keuangan RI dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 53/KMK.017/1999 dan Nomor 31/12/KEP/GBI tentang Pelaksanaan Program Rekapitalisasi Bank Umum. Aturan ini ditetapkan pada 8 Februari 1999 tetapi berlaku surut pada 9 Desember 1998.

Berikut adalah deretan bank penerima obligasi rekapitalisasi Bank Mandiri, BRI, BNI, Bank Central (BCA), Bank Niaga, Bank Lippo (Bank Niaga dan Bank Lippo telah merger menjadi CIMB Niaga pada 2009), Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Permata, BTN, Bank Bukopin, Bank Patriot, Bank Prima Express, Bank Universal, Bank Bali dan Bank Arta Media.

Terdapat pula 12 bank pembangunan daerah (BPD) yang menerima obligasi rekapitalisasi yakni BPD Nusa Tenggara Timur, BPD Bengkulu, BPD Lampung, BPD Nusa Tenggara Barat, BPD Sulawesi Utara, BPD Kalimantan Barat, BPD Jawa Timur, BPD Daerah Istimewa Aceh, BPD Maluku, BPD DKI Jakarta, BPD Sumatera Utara dan BPD Jawa Tengah.

Keempat, tak berhenti di situ. Masih ada upaya lain bagi pemerintah untuk mengundang investor asing untuk memeluk Asuransi Jiwasraya. Gampang ditebak, pastilah undangan itu disambut hangat oleh banyak investor asing untuk mengajukan lamaran pada waktu yang tidak terlalu lama. Sebab Indonesia memiliki penduduk sekitar 260 juta jiwa. Jumlah penduduk sebesar itu merupakan pasar target (target market) yang basah. Artinya, Nusantara merupakan mega peluang bisnis bagi industri perasuransian untuk digarap lebih intensif.

Saat ini kebiasaan berasuransi (insurance habit) di Indonesia masih rendah. Tetapi sesungguhnya hal itu justru menjadi kesempatan emas bagi investor asing untuk mereguk manisnya madu industri perasuransian. Namun hendaknya kepemilikan asing dibatasi hingga 40%, sehingga pemerintah masih dapat menjadi pemegang saham pengendali.•

Paul Sutaryono
Staf Ahli Pusat Studi BUMN


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×