kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Belanja Pendidikan

oleh Hendrika Y. - Managing Editor


Kamis, 25 Juni 2020 / 12:13 WIB
Belanja Pendidikan
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Salah satu yang merisaukan selama pandemi Korona ini adalah metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hampir seluruh semester II Tahun Ajaran 2019/2020 dijalani para pelajar Indonesia dengan metode belajar dari rumah tersebut. Cara ini bikin cemas banyak pihak, karena tidak semua daerah punya koneksi internet yang bagus dan tak semua murid memiliki fasilitas belajar memadai. Alhasil, efektivitas belajar siswa bergantung pada kreativitas guru dan sekolah mereka.

Pada awal penerapan PJJ, misalnya, kita mengenal Avan Fathurrahman, guru di Sumenep, Madura. Guru SDN Batuputih Laok 3 ini mendatangi murid-muridnya untuk pendampingan belajar, setelah sekolah ditutup. Hal itu dilakukan, lantaran mayoritas muridnya tidak punya ponsel pintar dan koneksi internet, bahkan juga tak punya televisi. Itu sebabnya, murid-murid Avan juga tak bisa mengikuti pelajaran yang disiarkan lewat TVRI.

Lantas, ada Bambang Setiawan, guru SDN Jatiroto Kulonprogo, Jogjakarta, yang juga menyambangi beberapa murid untuk tujuan sama. Lokasi mereka, di Menoreh, membuat sinyal internet buruk. Selain itu, orangtua murid tak mampu membeli ponsel pintar.

Itu kondisi di Pulau Jawa yang dianggap sebagai pulau dengan kondisi infrastruktur paling baik di seluruh negeri ini. Lantas, praktik Pembelajaran Jarak Jauh seperti apa yang terjadi di daerah terpencil.

Di sisi lain, para siswa yang belajar jarak jauh dengan koneksi internet bagus pun, ternyata menyimpan banyak masalah tersendiri. Pada survei yang diadakan UPI Bandung, Mei lalu, 53,7% dari 1.045 siswa responden, bilang mereka mengalami kesulitan dalam belajar jarak jauh, antara lain karena koneksi internet buruk. Maka, mereka sulit fokus belajar, tidak seperti di sekolah.

Kini, para siswa sedang libur semester, namun orangtua juga was-was menanti kebijakan normal baru di tahun ajaran mendatang. Namun, Kemendikbud juga melakukan banyak hal untuk menekan dampak pandemi bagi dunia pendidikan. Misalnya, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Afirmasi dan Kinerja, mulai kini bisa digunakan oleh sekolah swasta. Sebelumnya, hanya sekolah negeri yang dapat alokasi dana tersebut.

Merujuk pada kajian Bank Dunia, bahwa belanja pendidikan RI adalah dua kali lipat Jepang dan Korea Selatan, semestinya memang kendala pendidikan karena pandemi, bisa diminimalisir. Harapannya, para siswa di Indonesia bisa belajar efektif, kendati sekolah dari rumah.

Penulis : Hendrika Y.

Managing Editor



TERBARU

[X]
×