Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.140
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Benny Soetrisno, Wakil Ketua Umum Kadin: Jangan setop tapi naikkan tarif impor

Senin, 03 September 2018 / 13:32 WIB

Benny Soetrisno, Wakil Ketua Umum Kadin: Jangan setop tapi naikkan tarif impor

KONTAN: Itu berarti, pelaku usaha setuju dengan pembatasan barang impor?
BENNY:
Pembatasan barang impor bisa dilakukan secara bertahap, sambil kita mendorong barang-barang ekspor yang menjadi andalan negara seperti komoditas.

Nilai ekspor kita selama Juli lalu sebesar US$ 16,24 miliar, sedang impor mencapai US$ 18,27 miliar. Sebetulnya, selisih nilai ekspor dan impor ini tidak ada jarak terlalu besar, meski pemerintah ingin menekan impor.

Nah, pemerintah perlu bekerja keras mendorong ekspor agar sejalan dengan impor. Dorong ekspor bisa diimbangi dari nonmigas dan migas.

Ada sederet barang ekspor nonmigas yang bisa didongkrak, seperti komoditas karet, cokelat, kopi, timah, emas, dan nikel. Lalu, manufaktur untuk golongan mesin.

Angka pertumbuhan ekspor nonmigas yang 31% pada Juli lalu menjadi US$ 14,81 miliar merupakan angin segar bagi kita. Sebab, Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan yang baik pada ekspor.

Selain itu, industri kreatif yang sedang menjamur saat ini juga bisa diarahkan ke pasar ekspor. Apalagi, Badan Ekonomi Kreatif memproyeksikan nilai ekspor produk ekonomi kreatif mencapai US$ 21 miliar di tahun ini. Sektor mode memiliki kontribusi yang paling besar dari ekonomi kreatif.

Daya saing juga harus ditingkatkan, jangan sekedar ekspor. Barang-barang yang diekspor harus lebih baik, yang mampu bersaing dengan negara-negara lain. Sehingga, barang kita laku di pasar dan bisa diterima oleh negara target ekspor.

KONTAN: Lalu, dampak pembatasan barang impor bagi pelaku usaha?
BENNY:
Tentu, bagi perusahaan yang berorientasi impor maupun ekspor, akan terkena dampak dari kebijakan itu. Bagi pengusaha impor, sebagian barang impor yang akan ditutup bisa mengganggu ekspansi bisnis mereka, apalagi jika bahan baku berasal dari luar.

Sementara larangan atas 500 barang impor akan menjadi bumerang bagi eksportir. Sebab, negara-negara yang mengekspor barang ke Indonesia akan membalas dengan menutup barang impor dari Indonesia.

Terlebih, perang dagang di pasar global semakin memanas, menyusul kebijakan tarif impor oleh Amerika Serikat.

Pemerintah sendiri, kan, juga sedang mendorong ekspor. Kalau terlalu banyak membatasi barang impor, maka dikhawatirkan hubungan dagang dengan negara-negara lain akan terganggu.

Indonesia memiliki hubungan dagang yang terkait impor dengan China, Jepang, dan Korea Selatan. Nilai impor nonmigas dari Tiongkok sepanjang Januari hingga Juli lalu mencapai US$ 24,83 miliar dan Jepang sebesar US$ 10,45 miliar.

KONTAN: Pemerintah bilang, lonjakan impor bulan lalu anomali. Apa sebenarnya yang membuat impor tinggi?
BENNY:
Kenaikan impor karena ada kebutuhan belanja bahan baku yang berasal dari luar negeri. Biasanya, ketika bulan ini impor naik, maka ekspor akan naik di bulan-bulan berikutnya.

Jadi, ekspor bisa naik di Agustus atau September karena pengusaha yang membutuhkan bahan baku impor telah memproduksi barangnya. Mereka menjual lagi ke luar negeri dengan cara ekspor.

KONTAN: Tadi Anda bilang, sebelum pemerintah merilis 500 jenis barang impor yang akan disetop atau dibatasi, sebaiknya bertemu dulu dengan pengusaha. Memang, apa yang akan pelaku usaha usulkan ke pemerintah?
BENNY:
Sebenarnya, kita tidak perlu menyetop 500 jenis barang impor. Usulan dari kami, sebaiknya tingkatkan tarif bea masuk impor sebesar 40% untuk barang-barang impor yang tidak terlalu dibutuhkan karena ada banyak di dalam negeri.

Jika mengacu perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), maka tarif pajak impor barang rata-rata sebesar 8%.

Jika memilih menaikkan tarif pajak impor, maka pemerintah harus segera meningkatkan produksi bahan baku di dalam negeri. Tujuannya, tentu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang mengambil bahan baku dari luar negeri.

Memang, kita tidak bisa lepas dari impor. Soalnya, kalau nilai impor turun maka akan menggambarkan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai gambaran, ketika belanja bahan baku impor turun, artinya pelaku usaha telah memangkas ekspansi, yang berarti ada penurunan daya beli konsumen.

Ujungnya, akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi. Tapi, jika penurunan impor karena memang bahan baku sudah ada di dalam negeri, jelas itu akan lebih baik buat kita.

KONTAN: Mendorong ekspor juga baik buat mengisi cadangan devisa kita?
BENNY:
Selama ini, bukannya para eksportir tidak mau menempatkan dana di bank-bank devisa di dalam negeri. Kami sudah menempatkan dana, tapi memang devisa hasil ekspor yang dikonversi ke mata uang rupiah masih belum besar.

Bank Indonesia berencana menurunkan tarif swap atas devisa ekspor yang ingin dikonversi ke rupiah. Seberapa besar penurunan tarifnya? Kalau saya mengusulkan, lebih baik tidak ada tarif untuk transaksi swap.

Saat ini, tarif swap sebesar 5% hingga 6% sangat memberatkan eksportir, karena mereka akan mengeluarkan ongkos yang besar. Sehingga, meningkatkan biaya operasional dan menekan pendapatan laba mereka.

Kenapa pemerintah tidak membayar biaya swap yang dilakukan eksportir kalau memang ingin devisa hasil ekspor dikonversi ke rupiah. Sebab, jika biaya swap diturunkan pun masih terasa mahal bagi eksportir.

Apalagi, eksportir masih membutuhkan valuta asing untuk kebutuhan pembayaran bahan baku maupun penolong dari impor.                               

Biodata

Riwayat pendidikan:
■     Electrical Engineering Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule Aachen University, Jerman

Riwayat pekerjaan:
■     Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan
■     Ketua Apindo Bidang Perdagangan
■     Ketua Umum GPEI
■     Komisaris PT World Harvest Textile
■     Komisaris PT Apac Inti Corpora
■     Komisaris PT Binangun Artha Perkasa
■     Komisaris Asia Pacific Investama Tbk PT
■     Presiden Komisaris PT BIP Nusatirta
■     Presiden Komisaris PT Inti Sukses Garmindo
■     Presiden Komisaris PT Pura Golden Lion
■     Presiden Direktur PT BIP Lokakencana
■     Presiden Direktur PT Hotel Savoy Niaga
■     Presiden Direktur PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk
■     Direktur Utama PT Asri Kencana Gemilang
■     Direktur Operasional dan Engineering PT Tjiriadharma Construction & Engineering.

** Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN 20 Agustus - 26 Agustus 2018. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Jangan Setop tapi Naikkan Tarif Impor"
 


Reporter: Nina Dwiantika
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0460 || diagnostic_web = 0.3014

Close [X]
×