kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Berbagi Beban

oleh Cipta Wahyana - Managing Editor


Senin, 13 Juli 2020 / 11:11 WIB
Berbagi Beban
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Covid-19 telah memorakporandakan ekonomi kita. Alih-alih tumbuh, mungkin, perekonomian akan minus tahun ini. Imbasnya, dalam skenario sangat berat, pengangguran akan bertambah 5,3 juta orang. Orang miskin juga akan bertambah 5,7 juta.

Kondisi khusus membutuhkan solusi spesial pula. Berbekal PERPPU, pemerintah bergerak cepat melonggarkan bujet. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah mengalokasikan Rp 695,2 triliun untuk memulihkan ekonomi dan menopang daya beli masyarakat.

Duitnya dari mana? Karena dari awal anggaran sudah defisit, tak ada pilihan lain, pemerintah harus menambah utang. Total defisit anggaran yang mesti ditutup utang Rp 1.039 triliun atau tiga kali lipat lebih defisit pada bujet sebelum Covid yang hanya Rp 307 triliun.

Dari sini, muncul ide terobosan pembiayaan bujet dengan melibatkan Bank Indonesia (BI). Alih-alih hanya menjual surat utang ke pasar, Kemenkeu akan menjual secara langsung (private placement) surat utang negara (SUN) Rp 397 triliun kepada BI. Kemenkeu tetap akan memberi bunga kepada BI, tapi jauh di bawah bunga pasar.

Skema berbagi beban (burden sharing) Kemenkeu dan BI ini mendatangkan banyak manfaat. Yang pasti, risiko distorsi pasar surat utang akibat penerbitan SUN yang bertubi-tubi menjadi berkurang.

Di luar itu, kerelaan BI menerima bunga kecil memberikan tambahan ruang fiskal bagi pemerintah di masa mendatang. Tanpa skema burden sharing, Kemenkeu menghitung, beban bunga utang tahun 2020 hingga 2024 mencapai Rp 2.212 triliun. Dengan bantuan BI, beban bunga lebih ringan sekitar Rp 134 triliun.

Sempat menuai kritik, kini, tak sedikit pihak justru memuji terobosan Kemenkeu dan BI. Jika berhasil, strategi pembiayaan defisit ini bisa menjadi model negara lain. Salah satu lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings, juga menilai, kredibilitas pemangku kebijakan di Indonesia mengurangi risiko skema burden sharing yang mereka sebut sebagai monetisasi defisit bujet tersebut.

Cuma, langkah kreatif dan berani Kemenkeu dan BI itu hanya akan berhasil jika memperoleh dukungan semua pihak. Kementerian dan lembaga, misalnya, harus bekerja lebih keras agar belanja bujet Covid-19 yang masih minim segera meningkat. Dengan begitu, ekonomi akan kembali bergerak. Apa peran masyarakat? Selain patuh pada protokol kesehatan, kita juga harus bekerja keras agar tetap produktif. Ini cara kita ikut memikul beban.

Penulis : Cipta Wahyana

Managing Editor



TERBARU

[X]
×