kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Beres-Beres BUMN

oleh Barly Haliem Noe - Managing Editor


Selasa, 17 Desember 2019 / 19:34 WIB
Beres-Beres BUMN
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Pekan lalu Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco) sukses menghelat debut perdananya di bursa saham Tadawul, Riyadh, Arab Saudi. Aramco melepas 1,5% saham ke publik seharga setara US$ 9,38 per saham. Raksasa minyak milik Kerajaan Saudi itu membidik sekitar US$ 25,6 miliar atau sekitar Rp 358,4 triliun.

Memang, IPO gigantik yang dihelat Aramco tak lepas dari kontroversi. Mulai dari target fantastis hasil penjualan saham perdana, hingga nuansa politis dari perhelatan IPO si raja minyak dari Arab. Tak mengherankan bila banyak kalangan sangsi bahwa Aramco bisa memenuhi target IPO nan ambisius itu.

Toh, Aramco menjawab tuntas berbagai keraguan tersebut. Mengawali kariernya di bursa saham, harga Aramco langsung naik 10% menjadi US$ 10,32 per saham. Market cap-nya pun melompat menjadi US$ 2,06 triliun sekaligus mengokohkan dirinya mencatatkan diri sebagai perusahaan dengan market cap terbesar di muka bumi.

Lepas dari semua kontroversi maupun angka fantastisnya, IPO Aramco menjadi sejarah penting Arab Saudi. Ini adalah sinyal keseriusan Arab untuk berubah, membuka diri dan meletakkan tonggak Visi Arab Saudi 2030. Intinya, Arab Saudi ingin keluar dari ketergantungan ekonomi minyak, mendiversifikasi ekonomi Arab Saudi ke sektor lain, termasuk rekreasi dan pariwisata.

Dalam sebuah wawancara, CEO Aramco Amin Nasser menyatakan, kendati hanya melepas 1,5% saham dan di bursa lokal, IPO juga memberi standar baru untuk mengukur kekuatan Aramco di dunia. Maklum, tujuan go public acap bukan mengejar dana semata. Ada sisi-sisi lain yang ingin diraih, termasuk, mencari tolok ukur (benchmarking) dengan perusahaan sejenis di industrinya.

Dengan mengambil contoh lain, kita mudah mengukur kekuatan Gudang Garam Tbk (GGRM) dan HM Sampoerna Tbk (HMSP) karena sudah go public. Namun kita buta dengan kekuatan Djarum karena masih berstatus perusahaan privat.

Kita juga bisa menimbang kemampuan bisnis migas Medco Energi International Tbk (MEDC) dengan melihat isi laporan keuangannya yang rutin disajikan. Namun sulit menakar kehebatan Pertamina yang masih berstatus korporasi tertutup.

Bahkan dalam tataran ideal, go public juga menjadi penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) di sebuah perusahaan. Bahwa perusahaan idealnya dikelola secara transparan, akuntabel, bertanggung jawab, profesional dan independen, serta dikendalikan secara bertanggung jawab.

Nah, IPO Aramco memberikan konteks dan momentum bagi upaya bebenah perusahaan plat merah yang dihelat Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di titik inilah pemerintah bisa menjadikan pasar modal sebagai tolok ukur baru kekuatan Pertamina, PLN maupun Freeport Indonesia.

Pendek kata, kita berharap agenda beres-beres BUMN di era menteri baru ini tidak sekadar menjadi hiburan dan tontonan asyik di media massa karena keributan dan kontroversialnya. Kementerian BUMN harus meletakkan pondasi yang benar sebagai model standar pembenahan BUMN agar aksi beres-beres bukan isu rutin tiap pergantian rezim.

Penulis : Barly Haliem Noe

Managing Editor




TERBARU

Close [X]
×