kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Berharap Bisa Bangkit

oleh Titis Nurdiana - Managing Editor


Senin, 06 Januari 2020 / 11:56 WIB
Berharap Bisa Bangkit
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Awal tahun 2020 diwarnai banjir di banyak wilayah, mulai Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Bintaro, Serpong, Bandung, Puncak dan banyak lagi. Tak terbilang berapa banyak kerugian yang harus ditanggung.

Peritel, lewat asosiasi sudah menyerukan kerugian lebih dari Rp 1,25 triliun. Pebisnis transportasi, logistik, penerbangan dan banyak lagi bisnis merugi. Mereka hingga kini masih menghitung kerugian yang merobek kantongnya.

Kerugian dalam jumlah sangat besar juga dialami warga. Hanya, belum banyak yang membuat hitungannya. Kalaupun membuat, baru hitungan kasar bersamaan dengan helaan nafas panjang. Gaji atau tabungan ataupun penghasilan terkuras di awal bulan untuk memperbaiki porak-poranda akibat terjangan air banjir.

Betapa pun kondisinya menyakitkan, menyebalkan, kita memang harus segera bangkit. Menyiapkan kembali semangat untuk menjalani 2020 yang dibuka dengan berat.

Mirip seperti ekonomi kita yang dibuka dengan penuh tantangan. Betapa tidak, memasuki tahun 2020, kita langsung dihadapkan pada fakta bahwa penerimaan pajak sepanjang tahun 2019 seret. Informasi yang masuk ke KONTAN, penerimaan pajak tak sampai 84%.

Ini jelas tantangan sebagai bahan evaluasi pemerintah Joko Widodo. Pasalnya, sumber bokek kantong penerimaan negara adalah pajak penghasilan alias PPh. Pajak penghasilan yang mini, adalah indikasi ekonomi sepanjang 2019 berat. Celakanya, kondisi ini belum akan pulih di tahun 2020.

Bisnis diyakini masih akan berat. Tak hanya berhadapan dengan tantangan global yang sudah price in tapi ekonomi lokal juga sulit. Daya beli masyarakat masih kembang kempis. Pemerintah memang berencana mengguyur stimulus dengan aneka bantuan. Tapi, ini hanya berlaku di masyakarakat golongan bawah yang harus disubsidi.

Yang juga harus menjadi perhatian adalah: masyarakat golongan menengah yang jumlahnya besar. Mereka terjepit kebutuhan yang semuanya non subsidi. Di tengah bisnis sulit ekspansi, kondisi ini berefek ke kantong golongan menengah, yang mengandalkan gaji serta usaha sendiri. Celakanya, golongan inilah yang menjadi mesin ekonomi.

Setelah awal tahun diterjang banjir, mereka dihadapkan kenaikan tarif jalan tol, kenaikan iuran BPJS Kesehatan, harga rokok serta kenaikan harga pangan lantaran sejumlah perusahaan konsumer bersiap menaikkan harga. Duh!

Penulis : Titis Nurdiana

 Managing Editor




TERBARU

Close [X]
×