kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Berharap Pada Vaksin

oleh Syamsul Ashar - Redaktur Pelaksana


Rabu, 14 Oktober 2020 / 13:56 WIB
Berharap Pada Vaksin
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Pada dua hari terakhir ini kita semua mendengarkan kabar menggembirakan yang disampaikan oleh Komite Penanganan Virus korona Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional mengenai "kepastian" datangnya vaksin Covid-19. Pemerintah mengklaim sudah siap menyuntikkan vaksin Covid-19 mulai November 2020 mendatang.

Tentu ini sebuah target yang super ambisius, bahkan mungkin lebih optimistis dibandingkan dengan negara-negara produsen vaksi itu sendiri. Karena sampai awal Oktober 2020 belum ada satupun dari sembilan perusahaan yang tengah melakukan proses uji klinik ketiga berani memastikan vaksin yang mereka teliti aman dan siap produksi.

Seperti kita tahu selama ini Indonesia telah berkomitmen dengan beberapa perusahaan pemilik calon vaksin. Pertama dengan asal China yakni Sinovac yang akan memproduksi di Biofarma. Kedua, vaksin dari Sinopharm yang berkongsi dengan G42 asal Uni Emirat Arab (UEA) untuk beli vaksin utuh.

Ketiga, Genexine-GX19, kerjasama Kalbe Farma dengan Genexine Korea Selatan yang masih baru tahap pertama menuju tahap kedua. Keempat, membeli utuh dari AstraZeneca-University of Oxford Inggris yang juga sudah proses uji klinik tahap ketiga. Saat ini Menteri Kesehatan Menteri Luar Negeri dan Menteri BUMN sedang melobi ke Inggris untuk mendapatkan komitmen alias pemesanan. Kelima menunggu hasil skema kerjasama dalam forum WHO yakni Gavi-CEPI untuk meneliti dan memproduksi bareng-bareng bagi negara berkembang dan miskin, yakni AMC Covax.

Terlepas kapan vaksin itu bisa diproduksi massal dan dikirimkan ke Indonesia, kini Indonesia harus menyiapkan infrastruktur, logistik dan sumber daya manusia agar bisa menyuntikkan kepada 160 juta dalam dua tahap. Memang Indonesia punya pengalaman menyuntikkan vaksin MR yakni vaksin untuk mencegah virus measles atau campak dan rubella kepada sebanyak 70 juta orang secara bertahap selama 2 bulan. Masing masing sebulan di Pulau Jawa dan sebulan luar Jawa.

Dalam skenario awal penyuntikan vaksin ke 160 juta penduduk baru bisa jalan Desember 2020- sampai Maret 2022. Dengan kondisi seperti ini tak ada jalan lain selama warga belum disuntik vaksin harus disiplin memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Selama itu juga ekonomi kita akan berada pada fase survival. Jangan harap akan ada pertumbuhan ekonomi dan recovery tanpa ada kepastian kapan vaksin sampai ke negeri ini.

Penulis : Syamsul Ashar

Redaktur Pelaksana



TERBARU
Terpopuler

[X]
×