kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45858,94   -4,22   -0.49%
  • EMAS820.000 -10,87%
  • RD.SAHAM -0.40%
  • RD.CAMPURAN -0.08%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.11%

Berkah Pariwisata 2021 dari Krisis Covid-19

oleh Dewa Gde Satrya - Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya


Senin, 04 Januari 2021 / 04:27 WIB
Berkah Pariwisata 2021 dari Krisis Covid-19
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Menyikapi penutupan pintu masuk untuk semua warga negara asing ke Indonesia pada dua pekan awal tahun 2021, dapat dipahami dalam konteks prioritas keselamatan warga Indonesia. Patut kita dukung dan apresiasi kebijakan pemerintah yang jeli dan detil memperhatikan situasi global dari waktu ke waktu.

Kebijakan melarang warga negara asing masuk ke Indonesia dalam rangka memutus mata rantai persebaran Covid-19. Meski pun di sisi yang lain, situasi ini berdampak flight cancellation, rescheduling dan sebagainya, yang dinilai berdampak negatif secara ekonomi bagi industri pariwisata dalam negeri.

Indonesia berpengalaman mengelola krisis serupa pada masa sebelumnya, seperti krisis finansial global maupun krisis dalam negeri, meski situasinya tidak separah krisis yang terjadi pada saat ini. Krisis telanjur kita pahami sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan dan serba menakutkan. Krisis juga berkembang seiring dengan berbagai kesulitan hidup di masa pandemi Covid-19 ini.

Rhenald Kasali (2009: 35-36) menyatakan, krisis juga mengundang sebuah kesempatan dan harapan, yaitu kesempatan untuk tampil lebih baik, untuk merebut garis depan, untuk mengalahkan orang/perusahaan yang lemah. Setiap kali krisis terjadi, selalu diikuti lima hal sebagai berikut:

Pertama, krisis adalah gabungan dari bencana dan kesempatan; Kedua, krisis menghancurkan sekaligus menimbulkan pasar-pasar baru; Ketiga, krisis adalah alat bagi Yang Maha Kuasa untuk menghancurkan keangkuhan yang tampak dari begitu kuatnya resistensi-resistensi yang dilakukan manusia terhadap gagasan-gagasan perubahan.

Keempat, krisis adalah sebuah titik belok yang krusial, berbahaya kalau digas, sehingga diperlukan kehati-hatian dan ketepatan. Apabila berhasil melewati jalan berbelok, banyak peluang terbuka lebar. Kelima, terhadap peringatan akan datangnya krisis, belum tentu peringatan itu berakibat krisis.

Oleh karena itu, krisis harus dipahami dari kacamata yang kontradiktif. Krisis adalah peringatan yang bisa berakibat fatal kalau kita tidak meresponsnya dengan cepat dan bijak. Jadi, tiada pilihan lain selain menunggu vaksinasi, mari bersama-sama menggunakan momentum ini untuk bekerja lebih keras dan lebih berani.

Pada titik inilah, justru menjadi moment of truth bagi Indonesia untuk menunjukkan stamina pelayanan yang ekstra dalam situasi krisis Covid-19. Diyakini bahwa pengelolaan yang tepat akan menggugah simpati, bahkan empati dari wisatawan, melihat kesungguhan Indonesia sebagai tuan rumah bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.

Krisis kesehatan yang menekan industri pariwisata tidak hanya dilihat dari sisi negatif. Aspek negatif selalu mengasosiasikan dengan kerugian material dan non- material. Rasa frustrasi pasti ada, bahkan, berkaca dari krisis sebelumnya yang menghantam industri pariwisata, imbas kerugian dari krisis itu amat dirasakan oleh wisatawan, pengelola destinasi wisata, pemilik akomodasi, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan semua pihak yang menggantungkan pada industri pariwisata.

Kesehatan, keselarasan dan harmoni alam semesta, menjadi elemen penting yang patut diupayakan terus menerus pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Karena itu, gagasan Rhenald Kasali perihal krisis di atas, memiliki irisan yang tepat manakala dikaitkan dengan profil wisatawan unggulan yang dibutuhkan Indonesia.

Pesan dan sinyal ini sebenarnya mulai terang benderang saat kunjungan liburan Barack Obama ke Indonesia beberapa tahun lalu. Obama yang memilih Ubud, Bali, sebagai pusat berliburnya, mengingatkan lagi akan citarasa berwisata yang substansi untuk kesegaran jiwa sebagai efek keserasian dengan ketenangan alam dan interaksi dengan kebudayaan. Inilah peta jalan seorang menjadi manusia unggul melalui traveling.

Kehadiran Obama mengingatkan pula akan kehadiran manusia-manusia unggul di masa lampau yang karyanya semasa hidupnya masih diapresiasi hingga sekarang. Walter Spies (Jerman), Rudolf Bonnet (Belanda), Antonio Blanco (Italia), dan Aris Smith (USA), atas undangan Raja Ubud Tjokorda Sukawati, berinteraksi dan berkarya di Ubud.

Bahkan, karya-karya abadi mereka juga serasi dengan totalitas hidup mereka sampai wafat di sana. Di Ubud pula, event seni budaya mengarahkan pembentukan manusia unggul. Di antaranya, Ubud Writers & Readers Festival, Bali Institute for Renewal (Global Healing Conference), Bali Spirit Festival, Humanitad Foundation, dan banyak lagi.

Indonesia tidak hanya membutuhkan kuantitas (jumlah kedatangan) wisatawan asing, tetapi yang lebih penting pula adalah kualitas wisatawan asing itu sendiri. Ubud yang di masa silam menjadi tempat ditemukannya obat bagi para pengikut setia Rsi suci, Rsi Markandya, saat muhibah ke Tanah Bali, terikat dengan kesucian dan kesakralan di masa lalu yang berdampingan dengan eksistensi kehidupan hingga saat ini. Kedatangan orang ke Ubud masih dirasakan seperti kedatangan pengikut Rsi Markandya yang membutuhkan Ubad untuk kesembuhan jiwa raganya.

Orang-orang yang datang ke Ubud, dengan upaya yang lebih ekstra keluar dari mainstream, adalah mereka yang memiliki niat mencari kesembuhan jiwa raga. Mereka datang dengan motivasi yang lebih matang, sebagai kalangan wisatawan dengan latar belakang lebih dari rata-rata wisatawan umumnya.

Nilai dan pandangan hidupnya juga berbeda dengan mereka yang ke Bali untuk keperluan pemuasan kebutuhan fisik semata. Bahkan, latar belakang profesi dan strata sosial ekonominya pun bukan sembarangan. Singkatnya, mereka ini tipikal wisatawan yang berkualitas.

Kehadiran Obama di Ubud, Bali, dapat dimaklumi manakala melihat jejak orang-orang tersohor dunia lainnya yang pernah singgah di sana. Beberapa tahun lalu, Phillip Kotler juga datang ke Ubud, bahkan dengan sambutan istimewa melalui kehadiran Museum Marketing 3.0. Mereka inilah yang akan menjadi penyeimbang profil wisatawan asing di Bali khususnya dan lima kawasan super prioritas (Mandalika, Toba, Labuan Bajo, Likupang, Borobudur).

Kita meyakini bahwa wisatawan yang unggul menjadi pasar baru dan program wisata unggulan baru yang dimiliki oleh Indonesia (ecotourism, wellness tourism, nature tourism) merupakan buah dari krisis yang melanda industri kepariwisataan saat ini. Semoga vaksinasi akan segera berjalan dan industri pariwisata akan pulih pada tahun 2021 ini.

Penulis : Dewa Gde Satrya

Dosen Hotel & Tourism Business Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Pendalaman Strategic Thinking Sukses Berkomunikasi: Mempengaruhi Orang Lain Batch 2

[X]
×