kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Bersama menjahit luka Papua


Sabtu, 07 September 2019 / 09:00 WIB

Bersama menjahit luka Papua


Kita semua patut menyayangkan aksi demonstrasi sejumlah massa di Jayapura belum lama ini. Para massa yang mengamuk itu membakar gedung Mapolsek Jayapura Kantor Majelis Rakyat Papua, Kantor Telkomsel dan pertokoan PTC, termasuk Lapas Abepura yang dibakar dan dijebol, membuat jalur komunikasi pun terputus. Beruntung aksi tersebut berhasil dipukul mundur oleh aparat gabungan TNI/Polri.

Harus diakui membuncahnya rentetan demonstrasi di sejumlah daerah di Papua mulai dari Manokwari (19/8), Mimika (20/8), Fakfak (21/8), Deyai (28/8) hingga Kota Jayapura (29/8), tidak terlepas dari peristiwa aksi damai di Malang dan Surabaya beberapa waktu lalu yang kemudian berujung rusuh. Hal tersebut dipicu oleh adanya kabar perusakan tiang berbendera merah putih di lingkungan asrama mahasiswa Papua. Kabar tersebut selanjutnya menyulut aksi pengepungan terhadap asrama tersebut oleh aparat disertai ucapan rasis.

Polda Jawa Timur telah menahan Tri Susanti alias Susi tersangka ujaran kebencian dan penyebab berita bohong serta SA yang juga adalah tersangka rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Susi adalah koordinator aksi lapangan pada 17 Agustus di depan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Ia dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 160 KUHP, pasal 14 ayat (1) ayat (2) dan pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana. Sedangkan SA yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Surabaya dijerat pasal yang sama, ditambah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis.

Insiden di bumi Papua kemarin telah menyayat keintiman berelasi sosial kebangsaan. Tangan-tangan kotor di balik letupan aksi barbar tersebut bisa jadi mau merusak agenda sakral nasionalisme dengan merecoki suasana batin masyarakat (Papua). Mereka menginginkan masyarakat saling memantik prasangka dan kebencian yang kemudian membuka peluang bagi terjadinya chaos di Papua.

Itu sebabnya ucapan rasis sebagaimana yang mewarnai kemarahan masyarakat Papua kemarin adalah praktik tidak beradab dan tidak nasionalis yang patut ditolak oleh kita semua sebagai bangsa yang besar. Hal tersebut merupakan pelecehan terhadap prinsip nasionalisme.

Kita harusnya belajar dari sejarah bagaimana proyek nasionalisme global di abad ke-20 mengalami kegagalan seiring pecahnya negara-negara Uni Soviet dan Yugoslavia ataupun konflik di negara-negara Balkan (Suriah, Afganistan dan wilayah konflik lainnya saat ini) akibat meredupnya nasionalisme yang ditukar dengan propaganda kebencian dan berbagai isu-isu etnis maupun agama.

Sebagai bangsa yang mengimani demokrasi, hal-hal yang terkait dengan pelecehan identitas atau rasisme adalah kotoran sejarah yang mesti diwaspadai. Identitas, etnis dan agama tentu saat ini dan masa mendatang masih menjadi hal yang penting untuk dipikirkan serius oleh bangsa ini karena bagaimanapun secara esensial setiap orang akan selalu memiliki kebutuhan untuk mengidentifikasi dirinya ke dalam etnik dan agama (Wirutomo, 2015).

Dalam pemikiran Francis Fukuyama (2018), penguatan identitas yang marak belakangan ini bukanlah sesuatu yang baru. Ia adalah bagian dari upaya perlawanan terhadap kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan yang sistematik dan struktural yang dilakukan oleh agen-agen kleptokratis. Karena itulah nasionalisme kebangsaan adalah bagian terpenting dari fungsi negara untuk membangun konsolidasi dan kepatuhan rakyat terhadap norma dan konstitusionalitas bernegara.

Keragaman identitas yang menghiasi NKRI hingga 74 tahun merdeka ini sejatinya merupakan sumbangan sakral untuk menyukseskan megaproyek "menjadi Indonesia", melampaui sekadar pemenuhan agenda pribadi maupun kelompok. Historisitas keindonesiaan kita yang terbentang pada keberagaman identitas, warna kulit, agama, kepercayaan, dengan segala pranata sosialnya juga telah ikut menumbuhkan semangat juang antikolonialisme yang memuluskan penggenapan visi kemerdekaan.


Reporter: Harian Kontan
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0005 || diagnostic_web = 0.1595

Close [X]
×